
Mengambil Ibrah dari Setiap Detik Waktu yang Telah Terlewati.
---
Sore itu, suasana di kediaman keluarga Fathian di Bandar Lampung terasa begitu syahdu dan menenangkan, diselimuti oleh bias cahaya keemasan matahari yang perlahan turun di ufuk barat. Pukul empat sore lewat tigapuluh menit, angin sepoi-sepoi berhembus lembut melewati celah jendela ruang tengah, membawa aroma harum melati dari halaman depan yang baru saja disiram oleh Salma. Di sudut ruangan, jam dinding kayu berdetak konstan, mengiringi ritme kehidupan rumah tangga yang kian matang dan sarat akan nilai-nilai spritual yang mendalam.
Di ruang keluarga yang beralaskan karpet beludru abu-abu bersih, Nayla duduk bersimpuh sambil merapikan beberapa lembar catatan harian dan kitab tafsir kecil miliknya. Mengenakan gamis panjang berwarna mocca berpadu jilbab syar'i senada, ia tampak sedikit merenung setelah seharian berkonsentrasi penuh mengevaluasi berbagai tulisan dakwahnya. Di sisi lain ruangan, Fathian—sang ayah mertua sekaligus pelindung keluarga yang bijaksana—tengah duduk bersandar santai di kursi rotan, memegang sebuah cangkir teh hangat beraroma melati yang mengepul tipis.
"Bagaimana perenunganmu hari ini, Neng? Apakah ada hal baru yang kamu temukan dari catatan-catatan perjalanan hidupmu?" tanya Fathian dengan suara bariton yang hangat dan kebapakan, menatap menantunya penuh perhatian.
Nayla mendongak, lalu tersenyum simpul seraya merapikan tumpukan buku di hadapannya. "Alhamdulillah banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik, Abah. Terutama bagaimana waktu terus berjalan begitu cepat membawa kita pada fase-fase kehidupan yang tidak pernah disangka sebelumnya."
"Alhamdulillah kalau begitu. Waktu adalah nikmat terbesar yang sering kali dilalaikan manusia, padahal setiap detiknya adalah saksi yang akan berbicara di akhirat kelak," nasihat Fathian lembut sambil meletakkan cangkirnya di atas meja kayu.
Bagi keluarga ini, sore hari selalu menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah, mengambil ibrah, dan menjaga ketenangan batin di tengah dinamika harian yang kian padat.
❖ ❖ ❖
Fathian menarik napas dalam-dalam, menegakkan duduknya, lalu mengarahkan pandangannya secara saksama kepada Nayla yang tampak mulai mendengarkan dengan penuh takzim. Tujuan utama Fathian pada sore hari ini sangat jelas dan spesifik: ia ingin mengajak menantunya merumuskan dan menggali ibrah atau pelajaran berharga dari setiap detik waktu yang telah terlewati—baik dari masa-masa sulit sebelum pernikahan hingga dinamika rumah tangga yang sedang mereka bangun saat ini—agar hati senantiasa diliputi rasa syukur dan kesadaran diri di hadapan Sang Pencipta.
"Nayla, Abah ingin kita meluangkan waktu sejenak untuk benar-benar merenungkan makna waktu," ucap Fathian memulai pembicaraan dengan nada yang sangat tenang dan penuh wibawa. "Tujuan Abah hari ini adalah memastikan bahwa kita tidak sekadar menjalani hari demi hari begitu saja, melainkan mampu mengambil ibrah dari setiap detik yang telah Allah anugerahkan kepada kita."
Nayla merespons dengan mengangguk khidmat, menaruh perhatian penuh pada setiap petuah bijak ayah mertuanya. "Iya, Abah. Nayla sangat setuju. Kadang kita terlalu sibuk memikirkan masa depan atau merisaukan masa lalu, sampai lupa bahwa detik yang sedang kita jalani inilah yang membentuk kualitas keimanan kita."
"Tepat sekali, Adinda," sambung Fathian dengan senyuman hangat. "Tujuan seorang hamba yang cerdas adalah menjadikan masa lalu sebagai cermin evaluasi, masa kini sebagai ladang amal, dan masa depan sebagai tempat bertawakal sepenuhnya kepada Allah Ta'ala."
Nayla meresapi setiap kata yang diucapkan Fathian dengan hati yang bergetar haru. Ia menyadari betapa beruntungnya ia memiliki sosok ayah mertua yang tidak hanya membimbing dalam urusan dunia, tetapi juga senantiasa menuntun jiwanya untuk selalu terhubung dengan nilai-nilai keabadian akhirat.
❖ ❖ ❖
Waktu beranjak mendekati maghrib ketika percakapan penuh hikmah di ruang keluarga tersebut dihentikan sejenak oleh kumandang azan yang berkumandang merdu dari surau terdekat. Fathian berdiri dari kursi rotannya, mengajak seluruh anggota keluarga untuk segera bersiap menunaikan kewajiban menghadap Sang Pencipta. Suasana transisi sore menuju malam itu terasa begitu syahdu, mengubah keheningan ruang keluarga menjadi ladang ibadah yang khusyuk.
"Mari kita bersiap mengambil air wudhu, Neng. Waktu maghrib sudah tiba," ujar Fathian lembut sambil melangkah menuju tempat wudhu di bagian belakang rumah.
"Baik, Abah. Nayla segera menyusul ke musala rumah," jawab Nayla patuh seraya membereskan sisa buku catatannya.
Di dalam kamar mandi, Nayla membasuh wajahnya dengan air wudhu yang dingin dan menyegarkan, merasakan transisi batin yang sangat kontras; dari perenungan mendalam tentang waktu, kini jiwanya ditarik menuju ketenteraman total di hadapan Allah Ta'ala. Suara langkah kaki Farhan yang baru saja pulang dari kantor cabang turut meramaikan suasana rumah, berpapasan di ruang tengah dengan senyuman hangat penuh keakraban.
"Sudah mau maghrib, Mas. Mari kita jemaah bersama Abah," sapa Nayla ramah kepada suaminya yang masih mengenakan kemeja kerja rapi.
"Alhamdulillah, pas sekali. Abah sudah menunggu di musala keluarga," balas Farhan tersenyum manis, merangkul bahu istrinya sekilas sebelum mengambil air wudhu.