Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #84

Memperkuat Komitmen Dakwah Keluarga

Memperkuat Komitmen Dakwah Keluarga di Lingkungan Sekitar.

---

Cahaya matahari pagi menyembul terang menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di halaman depan rumah Fathian dan Nayla, memantulkan bias keemasan di atas lantai keramik teras yang bersih. Suasana di kompleks perumahan kawasan Jakarta Selatan itu terasa begitu hidup, diiringi suara sapu lidi tetangga yang bergesekan dengan jalan aspal serta tawa riang anak-anak kecil yang berlarian menuju sekolah. Di teras rumah berdesain minimalis modern tersebut, Fathian duduk di kursi rotan santai sambil mengenakan kemeja koko putih dan peci hitam rapi, sementara Nayla berdiri di sampingnya membawa nampan berisi dua cangkir teh manis hangat dan sepiring kue mangkok tradisional buatan rumah. Di dalam boks bayi portabel di dekat mereka, putra kecil mereka, Muhammad Rasyid Al-Fatih, tidur dengan sangat pulas mengenakan pakaian bayi bermotif garis biru muda.

"Udara pagi ini segar sekali ya, Fath. Rasyid juga sepertinya tidur sangat nyenyak menikmati semilir angin pagi," sapa Nayla lembut sambil meletakkan nampan di atas meja kayu bundar.

Fathian mendongak, menyambut senyuman istrinya dengan binar mata penuh kasih sayang. "Alhamdulillah, benar sekali, Sayang. Nikmat sehat dan ketenangan seperti inilah yang paling patut kita syukuri setiap hari," balas Fathian dengan suara yang hangat dan menenangkan.

Nayla menarik kursi di samping suaminya, lalu duduk berdampingan sambil menyesap teh hangatnya. Suasana pagi itu mencerminkan fase baru kehidupan rumah tangga mereka yang kini telah dikaruniai seorang buah hati, di mana tanggung jawab dan ruang lingkup perjuangan hidup mereka mulai meluas tidak hanya di dalam rumah, tetapi juga merambah ke lingkungan masyarakat sekitar tempat tinggal mereka.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Fathian dan Nayla pagi itu sangat mulia, terarah, dan sarat akan nilai-nilai kemasyarakatan: mereka ingin merumuskan, merencanakan, dan memulai langkah nyata memperkuat komitmen dakwah keluarga di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka melalui pendekatan silaturahmi yang hangat dan santun. Fathian menyadari betul bahwa sebagai keluarga muslim yang baru menetap dan memiliki latar belakang aktivis dakwah, kehadiran mereka di tengah masyarakat tidak boleh eksklusif atau menutup diri, melainkan harus membawa manfaat nyata, keteladanan akhlak, dan kontribusi positif bagi para tetangga.

"Fath, aku terus memikirkan obrolan kita kemarin sore dengan Bu RT saat beliau berkunjung menengok Rasyid," kata Nayla serius namun santai. "Bagaimana kalau bulan depan kita mulai mengadakan majelis taklim pekanan sederhana khusus ibu-ibu di ruang tamu rumah kita?"

Fathian merapikan letak cangkirnya, lalu menatap sang istri dengan antusias. "Ide yang sangat luar biasa brilian, Nay. Dari dulu aku juga ingin kita lebih aktif merangkul para tetangga melalui majelis ilmu yang ringan dan bersahabat."

"Betul sekali," timpal Nayla dengan mata berbinar. "Kita bisa mulai dari mengaji bersama, membaca surah Al-Kahfi setiap Jumat, diselingi diskusi ringan tentang pola pengasuhan anak Islami. Tujuannya agar dakwah kita tidak hanya bersifat teoretis, tapi benar-benar membumi di lingkungan sekitar."

"Tujuan kita jelas: membangun simpul ukhuwah islamiyah yang kokoh dengan tetangga sebelah rumah, menebar kebaikan, dan menghidupkan suasana rumah dengan zikir serta ayat-ayat suci," tegas Fathian mantap.

Tujuan besar tersebut dibahas secara mendalam dan penuh semangat kolaborasi di antara suami istri, menandai babak baru dedikasi mereka dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat modern.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan meninggi, memancarkan terik hangat khas ibu kota yang menyinari jalanan kompleks perumahan. Usai menyelesaikan sarapan pagi dan merapikan kebutuhan bayi Rasyid, Fathian dan Nayla memasuki transisi aktivitas harian mereka dari diskusi privat menuju implementasi sosial di lapangan. Fathian bersiap untuk berkeliling sejenak menyapa beberapa tetangga senior di ujung jalan blok sebelum bertolak ke kantor yayasan, sementara Nayla mulai menyiapkan bingkisan kue tradisional untuk dibagikan kepada tetangga terdekat sebagai wujud syukur atas kelahiran putranya.

"Fath, aku mau jalan sebentar ke rumah Bu RT dan Bu Haji Aminah di sebelah untuk mengantar kue selamatan akikah Rasyid yang semalam selesai dikemas," pamit Nayla sambil merapikan jilbabnya.

"Silakan, Sayang. Hati-hati di jalan, titip salam takzimku untuk beliau berdua," jawab Fathian ramah sambil mengenakan tas kerjanya.

Transisi ritme hidup ini berjalan dengan sangat mulus dan penuh kehangatan. Tidak ada kecanggungan; Nayla melangkah dengan senyuman ramah menyapa setiap warga yang berpapasan di jalan paving block kompleks, sementara Fathian menyempatkan diri singgah di pos satpam untuk berbincang akrab dan menyerahkan sedekah makanan ringan kepada para petugas keamanan lingkungan.

Perjalanan transisi ini membuktikan bahwa dakwah keluarga yang efektif tidak dimulai dari ceramah di atas panggung yang megah, melainkan dari sapaan ramah, senyuman tulus, dan kepedulian nyata kepada tetangga terdekat di sekitar rumah kita.

❖ ❖ ❖

Di tengah langkah silaturahmi Nayla yang berjalan lancar mendatangi rumah para tetangga, sebuah rintangan kecil muncul ketika ia mendatangi rumah Pak Hendra—seorang warga senior pengusaha properti terkenal di blok ujung yang terkenal sangat tertutup, individualis, dan kerap kali menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap kegiatan sosial keagamaan di lingkungan RT.

Lihat selengkapnya