
Menjaga Cinta Agar Tetap Berporos pada Ridha IlahiPengenalan Latar & Waktu
Sore hari di teras belakang ndalem Pondok Pesantren Al-Falah memancarkan kehangatan yang begitu menenteramkan jiwa. Pukul 16.00 WIB, cahaya matahari akhir pekan menembus rimbunnya dedaunan pohon mangga di pekarangan, memantulkan bias keemasan di atas lantai marmer yang bersih mengkilap. Angin berhembus sepoi-sepoi dari arah lembah pesantren, membawa kesejukan alami yang menyegarkan. Di tempat itu, Zaidan duduk di kursi rotan panjang, mengenakan kemeja koko putih polos berbalut sarung tenun cokelat tua. Di sampingnya, Nayla duduk dengan anggun mengenakan gamis longgar berwarna sage green dan jilbab senada, sementara bayi laki-laki mereka yang kini berusia sembilan bulan tampak ceria bermain mainan kayu kecil di atas karpet lembut.
Setelah badai ancaman penggeledahan mendadak tengah malam beberapa waktu lalu berhasil diselesaikan dengan menunjukkan keabsahan dokumen yayasan secara transparan, suasana pesantren kini kembali berada dalam kedamaian yang stabil. Di atas meja kayu jati di hadapan mereka, sepoci teh chamomile hangat dan sepiring pisang rebus tersaji rapi, menebarkan aroma harum yang menenangkan. Suara santri-santri yang melantunkan hafalan Al-Qur'an dari surau utama terdengar sayup-sayup, menemani detik-detik senja yang penuh berkah.
"Udara sore ini terasa sangat bersahabat, Zaidan," ucap Nayla lembut sambil tersenyum melihat tingkah aktif buah hati mereka. "Melihat tawa kecilnya membuat segala lelah seharian mengurus rumah tangga dan santri seketika menguap."
Zaidan menoleh, memandang istri dan anaknya dengan sorot mata penuh cinta dan ketulusan mendalam. "Anak adalah amanah terindah yang Allah titipkan kepada kita, Nayla. Dan kebahagiaan kita hari ini adalah buah dari kesabaran melewati berbagai badai ujian di masa lalu."
Suara desau angin dan gemercik air kolam ikan di samping teras menambah keheningan sore yang begitu syahdu.
❖ ❖ ❖
Bagi Zaidan dan Nayla, mengarungi bahtera rumah tangga yang telah berjalan lebih dari satu tahun memberikan kedewasaan batin yang luar biasa bahwa cinta kasih antar-pasangan tidak boleh berhenti sekadar pada ketertarikan emosional atau romansa duniawi semata. Target utama Zaidan sore hari ini adalah meneguhkan kembali komitmen spiritual rumah tangga mereka—memastikan bahwa rasa cinta, kasih sayang, dan pengorbanan di antara mereka senantiasa berporos pada satu titik tujuan tertinggi, yaitu mencari keridaan Allah SWT di atas segalanya.
"Nayla, mari kita manfaatkan waktu sore yang tenang ini untuk meluruskan kembali niat dan poros cinta kita," kata Zaidan dengan suara mantap namun penuh kelembutan. "Aku ingin cinta kita tidak lekang oleh waktu, dan satu-satunya cara agar ia abadi adalah dengan menjadikannya berporos pada rida Allah."
Nayla menatap suaminya dengan binar mata berkaca-kaca penuh haru. "Aku sangat sepakat denganmu, Zaidan. Terkadang manusia terbuai oleh cinta yang bersifat posesif atau duniawi, padahal cinta karena Allah adalah cinta yang menuntun kita menuju surga-Nya."
"Kita harus saling mengingatkan jika salah satu dari kita mulai terseret oleh ambisi pribadi atau ego duniawi," lanjut Zaidan menegaskan prinsip dasarnya. "Cinta sejati adalah ketika kita saling menggandeng tangan bukan untuk mendekat pada dunia, melainkan untuk mendekat kepada Sang Pencipta."
Nayla meraih tangan suaminya, menggenggamnya erat dengan penuh keyakinan. "Mari kita jadikan Allah sebagai pusat dari segala rasa di rumah tangga ini, Zaidan."
Tujuan suci tersebut terpancar jelas dari raut wajah keduanya, memperkokoh tekad mereka sebagai pasutri yang senantiasa menjaga kemurnian cinta ilahiah.
❖ ❖ ❖
Obrolan penuh visi spiritual itu mendadak diwarnai oleh derap langkah kaki teratur dari arah pintu penghubung ndalem. Pak Karto muncul dengan membawa map laporan bulanan yayasan serta sepiring jajan pasar kiriman dari dapur umum pesantren. Begitu melihat Zaidan dan Nayla sedang serius berbincang sambil menemani anak mereka, pengurus senior itu langsung memperlambat langkahnya dan membungkuk hormat.
"Maaf mengganggu waktu santai sore Gus Zaidan dan Neng Nayla," sapa Pak Karto dengan nada takzim. "Saya hanya ingin menyerahkan rekapitulasi laporan kegiatan santri sekaligus menyampaikan jajanan ini untuk menemani minum teh."