Menakar Waktu dalam Ridha-Nya

Amrullah Ibrahim
Chapter #88

di Atas Ridha Allah SWT.

Penutup: Waktu yang Berhenti di Atas Ridha Allah SWT.

---

Pagi yang cerah menyelimuti Kota Bandar Lampung tepat pada pukul sembilan lewat lima belas menit, tanggal 27 Agustus 2026. Langit biru jernih tanpa awan membentang luas di atas atap rumah keluarga Fathian, memantulkan bias cahaya matahari keemasan yang menembus celah-celah dedaunan mangga di halaman depan. Suasana di dalam rumah terasa begitu khusyuk, sakral, dan dipenuhi oleh aroma wangi melati segar yang dirangkai rapi di atas meja sudut ruang keluarga. Ruang tamu yang telah ditata sedemikian rupa dengan dekorasi minimalis tampak bersih dan rapi, menampakkan jejak-jejak kedamaian hidup yang dirajut bersama oleh keluarga besar sepanjang tahun-tahun pernikahan Farhan dan Nayla.

Di kursi kayu jati kesayangannya, Fathian duduk dengan tegap mengenakan kemeja koko putih bersih, peci hitam beludru, serta kain sarung tenun berkualitas tinggi yang melilit rapi di pinggangnya. Wajahnya memancarkan ketenangan seorang ayah dan mertua yang telah menuntaskan seluruh amanah hidupnya dengan penuh rasa syukur. Di hadapannya, Farhan duduk berdampingan dengan sang istri tercinta, Nayla, yang mengenakan gamis putih panjang berenda halus dengan jilbab syar'i menjutan menutupi dada, meresapi setiap detik penantian akhir dari sebuah perjalanan panjang rumah tangga.

"Bagaimana, Neng? Apakah semua catatan akhir naskah dakwah dan evaluasi keluarga kita tahun ini sudah tersusun rapi?" tanya Fathian dengan suara rendah namun terdengar jelas di tengah keheningan ruangan.

"Alhamdulillah sudah selesai semua, Abah. Tinggal kita serahkan kepada Allah sebagai bentuk ikhtiar penutup perjalanan kita," jawab Nayla ramah sambil merapikan map dokumen di atas meja kayu berlapis kain putih.

Di sudut ruangan, Salma tersenyum hangat sambil membawa nampan berisi teh poci hangat. Suasana rumah terasa seolah berhenti sejenak, mengunci setiap detik kebahagiaan di atas ridha Allah Ta'ala.

❖ ❖ ❖

Fathian menarik napas dalam-dalam, memegang erat tangan anak dan menantunya di atas meja kayu dengan genggaman yang hangat dan penuh keyakinan. Tujuan utama Fathian, Farhan, dan Nayla pada detik-detik yang sangat krusial ini adalah menutup lembaran perjalanan hidup rumah tangga mereka dengan sebuah ikrar kepasrahan mutlak—memastikan bahwa segala amal, kesabaran, dan perjuangan yang telah dilalui selama ini murni diniatkan semata-mata mencari ridha Allah Ta'ala, bukan demi pujian manusia.

"Anandaku Farhan dan Nayla... Hari ini kita berkumpul bukan untuk merayakan sebuah akhir yang menyedihkan, melainkan mensyukuri puncak perjalanan ibadah terpanjang kita," ucap Fathian dengan suara bergetar menahan haru namun tetap tegas. "Tujuan Abah hari ini hanya satu: melihat waktu seolah berhenti di atas ridha Allah, di mana hati kita tidak lagi terikat pada dunia melainkan pada kecintaan kepada Sang Pencipta."

Farhan membalas genggaman tangan ayah mertuanya dengan erat, menatap mata Fathian penuh takzim. "Insya Allah, Abah. Kami sangat memahami makna di balik waktu yang terus berputar ini. Tujuan kami hari ini adalah menyempurnakan penyerahan diri, memohon ampun atas segala kekurangan, dan memastikan bahtera rumah tangga kami senantiasa dinaungi oleh ridha-Nya."

Nayla memegang tangan suaminya dengan lembut, mengamini setiap kata yang terucap di ruang tengah dalam hatinya. Tujuan hidupnya kini telah mencapai titik puncak ketenteraman; dari seorang gadis penuh luka masa lalu, kini ia bertransformasi menjadi istri dan hamba yang taat di bawah naungan kasih sayang suami yang saleh dan bimbingan ayah mertua yang bijaksana.

"Fokuskan niat kita semata-mata karena Allah, Mas, Abah," bisik Nayla pelan dengan mata berkaca-kaca penuh haru. "Biarlah waktu duniawi ini berhenti dalam kedamaian zikir dan rasa syukur."

Tujuan besar yang disatukan dalam satu majelis penutup tersebut mencerminkan kematangan spiritual ketiga belah pihak. Tidak ada ambisi duniawi yang tersisa, yang ada hanyalah kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta untuk menutup lembaran hidup dengan husnul khatimah.

❖ ❖ ❖

Waktu seolah berjalan lambat ketika Fathian meminta seluruh anggota keluarga untuk menundukkan kepala sejenak, memanjatkan doa penutup agar majelis keluarga tersebut diberkahi oleh Allah Ta'ala. Suara desau angin dari luar jendela kaca yang terbuka separuh berpadu dengan suara lirih zikir yang dibacakan oleh Farhan, menciptakan suasana transisi batin yang sangat mendalam bagi siapa saja yang mendengarkannya.

"Mari kita akhiri perjalanan panjang ini dengan membaca tahmid dan istighfar bersama-sama," instruksi Fathian dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.

"Alhamdulillah hir rabbil alamin, astagfirullahal azim..." ucap seluruh anggota keluarga di ruang tengah secara bersamaan, menciptakan gema lembut yang merambat hingga ke setiap sudut ruangan rumah kecil yang penuh berkah itu.

Bagi Nayla, momen transisi ini menandai puncak dari metamorfosis batin yang ia jalani bertahun-tahun. Ruang keluarga yang tadinya dipenuhi dinamika kehidupan kini berubah menjadi mihrab suci di mana janji ketaatan abadi disaksikan langsung oleh para malaikat di langit. Ia merasakan perubahan suhu di dalam dadanya; debaran waktu yang tadinya mengejar-ngejar kini perlahan-lahan berhenti dalam ketenteraman luar biasa.

"Sudah siap, Neng? Waktu kita di dunia ini adalah titipan yang harus dijaga sampai akhir," bisik Farhan sekali lagi, merangkul bahu istrinya dengan penuh kasih sayang seorang suami.

Lihat selengkapnya