Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #1

Bab 1

"Rumah adalah tempat pulang bagi mereka yang saling merindu. Namun, rumah bukan lagi tempat pulang jika selalu ada ketegangan di dalamnya. Wahai rumah. Ajarkan aku untuk bisa tetap pulang walau hati retak. Ajarkan aku untuk selalu setia menanti. Menanti saat ketika semua orang akhirnya bisa pulang. Karena penantian yang panjang akan selalu berakhir indah bagi mereka yang sabar dan terus berdoa."

~Hanna



Hanna menggenggam erat ponselnya. Perkataannya tadi terlanjur meluncur, dan sekarang ia harus meluruskan maksudnya. Ia menatap suaminya, Daffa, yang berdiri di hadapannya dengan rahang mengeras dan mata menyala-nyala.


“Maksud aku bukan begitu, Mas. Kamu salah paham. Aku juga tidak tahu kalau hari ini kamu sedang ada masalah di pekerjaan. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku hanya bertanya, apa kamu punya uang simpanan? Ibuku lagi butuh uang, katanya dia mau pinjam dulu.”


Hanna meraih tangan suaminya, berusaha menjelaskan dengan nada lembut. Ia berharap Daffa bisa menangkap ketulusan di balik pertanyaannya yang terkesan tiba-tiba.


Namun, Daffa mendesis. Matanya menyipit, dan Hanna bisa melihat urat di pelipisnya menegang.


“DIAM! Saya bilang diam! Kamu mau kita bertengkar lagi malam ini?”


Amarahnya tertahan, tetapi giginya bergemeretak. Setiap kata yang keluar terasa seperti paku yang ditancapkan tepat di ulu hati Hanna. Suaranya rendah, penuh penekanan, dan menusuk.


Hanna terperanjat. Napasnya tercekat. Dunia seakan berhenti berputar di sekelilingnya. Ia menatap lekat mata suaminya yang penuh amarah itu. Matanya mulai memanas, tapi bukan karena marah—melainkan karena tak percaya. Selama dua tahun menikah, Daffa adalah tipe orang yang lebih banyak diam saat bertengkar. Ia tidak pernah membentak seperti ini. Mungkin, pikir Hanna, ini adalah ledakan dari segala amarah yang selama ini tertahan. Sebuah bom waktu yang kini benar-benar meledak.


“Saya mau pergi,” ucap Daffa dingin, melepaskan tangannya dari genggaman Hanna. “Saya mau cari uang buat ibu kamu.”


Tanpa menoleh, Daffa melangkah keluar kamar, meninggalkan Hanna yang berdiri membeku. Begitu pintu tertutup, air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya luruh. Hanna menangis tanpa suara, menekan isaknya di balik pintu kamar. Ia tidak mau tangisannya terdengar oleh orang tuanya yang ada di ruang tamu. Jika mereka tahu, hanya akan memicu pertengkaran baru yang lebih rumit.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka kembali. Daffa masuk dengan langkah tergesa. Hanna menatapnya tajam. Matanya sembab, tetapi bibirnya mengerucut rapat. Ia diam, persis seperti yang diperintahkan suaminya tadi.


Lihat selengkapnya