“Ayah...” Mertuanya menoleh. “Maaf, apa Ayah melihat Hanna?”
Dahi mertuanya mengerut. “Saya baru selesai mandi dan hendak berangkat kerja. Namun sejak tadi saya mencari-cari Hanna, tapi tidak ketemu, Yah. Hanna ke mana, ya?”
Daffa duduk di samping Pak Reza. “Ayah malah baru sadar. Ayah juga tidak melihat Hanna dari tadi. Ayah kira dia masih di kamar.”
Daffa mulai gelisah. Istrinya tiba-tiba menghilang. Ia sudah memeriksa setiap sudut rumah, tetapi bayangan Hanna pun tak terlihat.
“Sebentar, Ayah tanya Ibu dulu. Siapa tahu Ibu tahu Hanna ke mana.” Daffa masih berharap ibu mertuanya mengetahui keberadaan istrinya.
“Bu... Bu...” Pak Reza tergopoh-gopoh menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur.
“Kenapa, Yah? Ada apa? Kenapa Ayah panik begitu?” Bu Rani mematikan kompor, terkejut melihat suaminya tampak cemas.
“Ibu, apa Ibu melihat Hanna pagi ini?”
“Ayah ini, Ibu kira ada apa.” Bu Rani kembali menyalakan kompor. “Tadi Hanna menemui Ibu di halaman belakang. Mungkin dia masih di sana.”
“Syukurlah...” Kekhawatiran Pak Reza lenyap seketika. Ia menenggak segelas air putih untuk menetralkan ketegangan yang sempat menyergapnya. “Baiklah, Bu. Ayah beri tahu Daffa dulu. Kasihan, dari tadi dia mencari Hanna.”
Daffa sudah siap dengan jaket dan helm. Tangannya hendak menyalakan motor.
“Daffa!” teriak mertuanya dari dalam rumah. “Kamu mau ke mana?”
“Saya mau mencari Hanna, Yah.” Daffa menjawab cepat. Sekali lagi tangannya terulur menyentuh kunci motor. Ia tak bisa menunggu lebih lama. Pikiran-pikiran buruk terus menghantui. Tidak biasanya Hanna pergi tanpa pamit, apalagi meninggalkan ponselnya di kamar.
“Hanna mungkin ada di halaman belakang, Daf. Coba kamu cek. Kata Ibu, tadi dia bicara dengan Ibu di sana.”
Tanpa menunggu sedetik pun, Daffa berlari menuju halaman belakang. Perasaannya sejak tadi tidak enak. Ia benar-benar khawatir.
“Hanna!!!” Teriakannya menggema hingga ke teras depan.
“Astaghfirullah, Hanna!!”
Daffa merengkuh tubuh istrinya yang tergeletak di tanah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi?” Ia menepuk-nepuk lembut pipi Hanna, tetapi tak ada respon.
“Hanna, saya mohon... bangun.” Air matanya jatuh, menetes di pipi lembut sang istri.
“Hanna... bangun.” Ia tak kuasa memeriksa denyut nadi istrinya. Daffa mendekap Hanna erat-erat.