Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #4

Bab 4

Sore ini Hanna dipindahkan ke ruang rawat inap. Karena kondisinya masih lemah, ia harus menjalani perawatan intensif. Mau tidak mau, di ruang rawat inap ini Hanna hanya boleh ditemani oleh satu orang. Itu merupakan peraturan tertulis dari rumah sakit demi menjaga kenyamanan para pasien rawat inap.


"Kalian pulang saja! Ibu yang akan menemani Hanna di sini." ujar Bu Rani dengan tegas. Sama sekali tak memberi ruang bagi Daffa untuk menawar. Matanya masih enggan menatap menantunya.


Daffa membeku. Ia menatap istrinya yang terbaring lemas, lalu menoleh ke Pak Reza yang hanya bisa menghela napas. "Bu, izinkan saya yang menjaga Hanna. Saya suaminya," ucapnya lirih.


"Saya takut kamu tidak menjaga anak saya dengan baik." Sorot mata Bu Rani tajam, menusuk ke sudut hati terdalam Daffa.


Daffa menunduk, tak lagi mampu melawan. Bukan karena takut, tetapi ia tidak ingin bertengkar lebih jauh. Jika mengikuti emosinya, mungkin ia tidak akan tinggal diam.


"Bu, Mas Daffa saja, ya, yang jaga Hanna?" Hanna menyela dengan suara lemah. "Hanna tidak mau merepotkan Ibu. Lagipula Fahri masih membutuhkan Ibu di rumah. Kita semua tahu, walaupun sudah besar, dia tetap sangat bergantung pada Ibu."


Bu Rani terdiam. Karena terlalu panik melihat Hanna pingsan tadi pagi, kemudian sibuk mengurus putrinya, ia sampai lupa pada anak bungsunya. Pagi tadi Fahri sudah berangkat sekolah. Ia baru masuk kelas 3 SMA—sekitar satu tahun lagi lulus. Namun, benar ucapan Hanna, Fahri masih sangat tergantung pada ibunya. Mulai dari menyiapkan sarapan, bekal makanan, hingga ponselnya yang sering tertinggal jika bukan ibunya yang mengingatkan.


"Bu?" Hanna menyentuh punggung tangan ibunya, membuat Bu Rani menoleh.


"Kasihan Fahri. Mungkin sekarang dia sedang duduk di teras menunggu Ibu pulang," bujuknya pelan.


Bu Rani menghela napas panjang. "Ya sudah, Ibu pulang dulu, ya. Besok Ibu ke sini lagi. Nanti Ibu buatkan bubur kesukaan kamu," ucapnya sambil mengusap lembut pipi putri sulungnya.


"Syukurlah..." gumam Pak Reza dalam hati.


"Ayah juga pulang dulu, ya, Nak. Cepat sembuh, cepat pulih, Sayang," ucap Pak Reza dengan mata berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya