Di rumah, seorang remaja laki-laki duduk gelisah di teras. Ia masih mengenakan seragam SMA lengkap dengan dasi yang sudah kendur di leher. Sejak pulang sekolah, ia duduk di sana—karena pintu rumah terkunci dan ia tak punya kunci cadangan. Ia sudah berkali-kali menghubungi orang tuanya, tetapi dering telepon ibunya terdengar dari dalam rumah, menandakan ibunya pergi tanpa ponsel. Ia pun mencoba menghubungi kakaknya. Namun, panggilannya hanya berakhir pada nada sibuk yang tak berujung.
Matahari mulai tenggelam ketika sebuah taksi akhirnya berhenti di halaman. Fahri langsung berdiri, bersiap menyambut. Namun, ia hanya melihat dua sosok yang turun—ayah dan ibunya. Hatinya berdebar tak enak.
“Bu, Yah,” sapanya. “Ibu sama Ayah dari mana? Kak Hanna dan Kak Daffa ke mana?”
Belum sempat orang tuanya menjawab, Fahri terus bertanya. “Aku kira mereka sama kalian. Dari tadi aku hubungi kakak, tapi enggak diangkat. Aku nunggu di sini berjam-jam, Bu. Aku juga belum makan.” Suaranya berubah jadi sedikit cengeng, seperti anak kecil yang kelelahan.
Bu Rani mengusap rambut Fahri, tangannya bergetar halus. “Maaf, Nak, Ibu lupa bawa ponsel. Kita masuk dulu, Ibu ceritakan.”
Fahri menangkap keletihan di wajah ibunya. Matanya sembab, seperti baru saja menangis. “Kenapa, Bu?” Dahi Fahri mengernyit. “Apa terjadi sesuatu?"
"Masuk dulu, Nak," ucap Pak Reza, suaranya berat. Ia membuka pintu dan mempersilakan istri dan putranya masuk.
“Bu, ada apa?” Belum selangkah kakinya melewati pintu, Fahri kembali melontarkan pertanyaan yang sama.
“Tadi pagi Hanna pingsan di halaman belakang,” jawab Bu Rani singkat.
Fahri terpaku, wajahnya berubah pucat. “Kak Hanna pingsan? Kenapa? Kok bisa, Bu?” Suara Fahri bergetar, panik.
“Tenang, Nak. Tidak apa-apa,” potong Pak Reza sambil tersenyum. “Alhamdulillah, Kakakmu sekarang sedang mengandung. Sebentar lagi kamu akan punya keponakan.” Senyum sumringah terukir di wajahnya. Sejak tadi hatinya tak berhenti bersyukur.
“Wah, serius, Yah?!” Mata Fahri membulat, lalu ia cengengesan lebar. “Rumah nggak akan sepi lagi dong! Nanti si bocil bisa aku gangguin, aku kasih nama unik-unik!” Ia tak sabar ingin menjahili keponakannya kelak.