Empat bulan berlalu begitu cepat. Hanna sangat bersyukur karena ibunya terlihat sedikit melunak. Walau masih jarang saling berkomunikasi, setidaknya Bu Rani dan Daffa sudah jarang sekali terlibat konflik. Keduanya kini lebih memilih fokus pada kehamilan Hanna.
Kebahagiaan seakan sedang berpihak kepada Hanna. Hari ini, sepulang kerja, Daffa tiba-tiba memeluk erat tubuh istrinya. Tanpa kata, tanpa salam, ia langsung mendekap Hanna dari belakang.
“Mas? Ada apa?” Hanna terkejut. “Kok tiba-tiba kamu peluk aku begini?”
Daffa tak menjawab. Kepalanya tertunduk di pundak Hanna, tangannya melingkar erat di perut istrinya yang mulai membuncit. Hanna merasakan sesuatu—hangat, tetapi juga berat.
“Mas Daffa?” panggilnya lagi, kali ini lebih lembut. “Kamu kenapa?”
Masih hening. Hanya suara napas Daffa yang terdengar, sedikit tersengal, seperti menahan sesuatu.
“Sst... Saya hanya sedang ingin memeluk istri dan anak saya,” ucapnya seraya mengelus perut istrinya.
“Kamu ini, ada-ada saja, Mas.” Hanna menggeleng-gelengkan kepala, tersenyum kecil.
Tiba-tiba Daffa melepaskan pelukannya. Hanna mengernyit. “Sekarang kenapa pelukannya tiba-tiba dilepas?”
Daffa tidak menjawab. Ia memilih duduk di samping istrinya.
“Mas, ada apa? Jangan buat aku deg-degan. Aku takut.” Segala pikiran buruk mulai menghampiri Hanna.
Daffa menatap istrinya lekat-lekat, menambah ketegangan di hati Hanna.
“Mas!” Hanna berdiri, sungguh ketakutan. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi.
Daffa merogoh saku celananya, mencari ponsel miliknya. Hanna semakin dibuat bingung karena sekarang Daffa malah tersenyum-senyum sendiri sambil mengotak-atik ponselnya.
“Kali ini, aku benar-benar marah, Mas!” Hanna hendak keluar dari kamar. Namun, pergelangan tangannya ditarik oleh Daffa.
“Jangan marah, Sayang. Alhamdulillah, saya baru dapat rezeki.” Daffa menyodorkan ponselnya, memperlihatkan sesuatu dari layar ponselnya.