Mentari pagi menyapa Hanna yang masih menyimpan gejolak di hatinya. Hatinya berontak, meronta ingin segera menyampaikan kabar gembira pada ibunya. Namun, ia takut. Terpaksa ia menunda segalanya di dada.
“Kamu, jadi ambil uang itu hari ini, Mas?” Tanya Hanna pada suaminya yang sedang bersiap.
“Iya, Sayang.” Daffa merapikan kemejanya.
“Tapi, Mas. Kita belum membicarakan rencana kita dengan uang itu. Kamu mau kita pindah dari sini?” Tanyanya dengan penuh hati-hati. Ia tidak ingin perkataannya kembali menyinggung perasaan suaminya.
“Iya, Saya akan coba bicarakan dulu dengan Ayah. Mungkin Ayah punya saran yang baik untuk kita.”
Daffa meraih ponselnya di atas meja. “Saya berangkat dulu, ya.” Hanna mengangguk, mencium punggung lengan suaminya.
Hatinya masih diliputi gelisah. Rasanya ada yang mengganjal dalam hati. “Apakah semua akan baik-baik saja?” Gumamnya.
Ia duduk termenung di dalam kamar. Matanya mengembun, hatinya teriris, ia merasa hancur. “Akulah orang yang paling menyedihkan. Aku sampai harus menyembunyikan kebahagiaanku dari ibuku sendiri. Demi suamiku, agar ia tidak tersinggung lagi. Sungguh, aku sudah sangat lelah dengan semua ini.” Ia menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
“Harusnya aku tahu, ini pasti akan terjadi. Karena sejak awal, ibu memang tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Mas Daffa.”
Angannya terbang menembus mesin waktu. Ia masih sangat ingat, saat pertengkarn itu terjadi.
“Ibu sudah bilang, kamu tidak perlu berhubungan dengan laki-laki itu lagi, Hanna!” Hari itu, Bu Rani marah besar. Saat tahu Hanna masih sering bertemu dengan Daffa.
“Tapi kenapa, Bu? Dia pria yang baik kok, Bu.” Ini adalah ke sekian kalinya Bu Rani menolak hubungan mereka.
“Pokoknya Ibu tidak suka sama dia.” Bu Rani pergi meninggalkan Hanna yang terpaku.
Satu minggu setelah hari itu, Hanna menemui Daffa.
“Kita perlu membicarakan sesuatu, ini penting.” Tatapan Hanna kosong, pikirannya berantakan. Hatinya hampa.
“Ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan, Sayang?” Daffa menggenggam tangan Hanna.
“Aku... Ibu... Ibu...” Suaranya tertahan. Tubuhnya bergetar, keringat membasahi keningnya.
Daffa mendekat. “Kenapa? Kamu kenapa? Ibu kamu kenapa? Bicaralah, Hanna.”