Sore hari, sepulang kerja, Daffa langsung menemui ayah mertuanya.
“Ayah, ada waktu sebentar?” tanya Daffa saat Pak Reza sedang duduk di teras membaca koran ditemani secangkir teh hangat dan biskuit.
Pak Reza melipat korannya. “Ada apa, Nak? Duduklah.” Ia menepuk kursi di sebelahnya.
Daffa duduk di kursi samping mertuanya. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian. “Ayah, Alhamdulillah, saya baru mendapat rezeki yang lumayan besar.” Daffa kembali menarik napas panjang. Ia sangat gugup. “Rencananya, saya ingin membawa Hanna pindah dari sini. Apa boleh, Yah?” tanyanya dengan sangat hati-hati.
“Alhamdulillah, Ayah ikut senang mendengarnya. Tapi, kalian mau pindah ke mana, Nak?” Pak Reza menegakkan posisi duduknya, pertanda obrolan mereka mulai serius.
“Daffa belum tahu, Yah. Daffa ingin meminta izin dari Ayah dulu, dan ingin tahu pendapat Ayah, baiknya bagaimana.”
Pak Reza menatap Daffa lekat-lekat. “Kamu tampak gelisah, Nak. Ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?”
Daffa menunduk, menggenggam tangannya sendiri. “Ayah, saya... saya takut Ibu tidak setuju.” Suaranya mengecil. “Saya takut Ibu menganggap saya ingin membawa Hanna pergi dari Ibu.”
Pak Reza menghela napas panjang. “Ayah tahu, Ibu memang keras. Tapi, Ayah juga tahu, Ibu hanya terlalu khawatir pada Hanna.” Ia menepuk pundak Daffa. “Ayah akan bicara dengan Ibu. Tapi, kamu juga harus sabar, Nak. Ibu butuh waktu.”
Pak Reza memikirkan sesuatu, ia tersenyum kecil. Ia mengambil sepotong biskuit, tetapi tidak segera memakannya. “Daffa, Ayah senang kamu datang dan bertanya dulu. Itu menunjukkan kamu menghargai Ayah dan Ibu.” Ia menatap menantunya dengan sorot lembut. “Tanah di depan rumah ini, Ayah siapkan untuk Hanna sejak dia kecil. Kalian bisa bangun rumah di sana, jika kalian mau.”
Daffa terperangah. Ia tak menyangka mertuanya akan menawarkan tanah itu. “Ayah... sungguh?”
“Sungguh, Nak.” Pak Reza mengangguk. “Tapi, Ayah punya satu pesan.”
“Apa pesan Ayah?”
“Bangunlah rumah itu dengan cinta. Jangan karena ingin menjauh dari Ibu, tetapi karena kalian ingin membangun masa depan.”
Daffa menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. “Ayah... saya tidak tahu harus membalas kebaikan Ayah dengan apa.”