Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #9

Bab 9

Setelah merinci semua bahan bangunan yang diperlukan bersama Ayah, ternyata uang yang Daffa miliki masih kurang untuk membangun rumah sampai selesai. Namun, tekad Daffa untuk membangun rumah sudah bulat.


“Kumpulin dulu saja, Yah, bahan-bahannya,” ucap Daffa mantap. “Nanti sambil jalan, mudah-mudahan ada rezeki lagi. Yang penting kita mulai dulu.”


Pak Reza mengangguk, tersenyum melihat semangat menantunya. “Ayah setuju, Nak. Lebih baik mulai dari sekarang daripada menunda-nunda. Ayah juga akan bantu semampunya.”


Daffa menunduk, haru. “Terima kasih, Yah. Doa Ayah dan Ibu sudah cukup.”


“Kalau saran Ibu, uangnya sebagian disimpan untuk biaya persalinan Hanna nanti,” tukas Bu Rani. “Lagipula, karena memang uangnya tidak akan cukup untuk bangun rumah sampai selesai. Jadi, sebagian di simpan saja untuk nanti.” Sambungnya.


“Saya yakin, untuk adik bayi lahir nanti, Allah pasti memberi rezekinya, Bu.” Ucap Daffa hati-hati.

“Ya sudah, kalau begitu.” Bu Rani memalingkan wajahnya. Ia sedikit emosi karena Daffa tidak mengikuti saran darinya.

“Tapi, Mas. Aku setuju dengan Ibu, kita juga harus menyiapkan persalinan aku nanti.” Hanna menambahkan.

“Persalinan kamu masih sekitar 5 bulan lagi, Hanna. Percayalah, Allah pasti sudah menyiapkan rezeki untuk bayi kita juga, Sayang.” Ucap Daffa penuh percaya diri.


“Tapi, Mas. Mungkin saja ini adalah rezeki yang Allah titipkan untuk anak kita.” Hanna bersikukuh. Ia rasa, perkataan ibunya ada benarnya juga.

“Saya janji, saya akan usahakan untuk anak kita nanti. Agar tercukupi kebutuhannya, termasuk saat dia lahir.”

“Baiklah, Mas.” Hanna mengalah.


Pak Reza tertawa kecil. “Kalau kalian sudah sepakat.  Besok Ayah cari tukang yang bisa diajak kerja sama. Kita mulai dari pondasi dulu.”


Daffa dan Hanna saling berpandangan, senyum bahagia mengembang di wajah mereka. Perjalanan masih panjang, tetapi mereka siap menjalaninya bersama.


Di sisi lain Bu Rani masih berperang dengan emosinya. Ia berusaha untuk tidak memicu konflik lagi. Tentu sangat sulit, dengan karakter Bu Rani yang sangat keras. Menahan amarah itu bagaikan meraih rembulan. Tidak mungkin bisa. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk pergi melakukan pekerjaan rumah saja.


“Ibu ke dapur dulu, ya, belum cuci piring.”

Lihat selengkapnya