Pukul 01.30 dini hari, Daffa akhirnya berbaring di sisi tempat tidur. Ia menatap punggung istrinya yang membelakang, mendengar dengkuran halus yang masih setia berpura-pura. Daffa tersenyum kecil.
“Sayang...” panggilnya pelan.
Hanna tidak bergerak. Dengkurannya tetap terdengar, sedikit berlebihan.
Daffa menghela napas, lalu berbisik, “Aku tahu kamu belum tidur.”
Hanna masih diam. Ia memejamkan mata lebih erat, berharap Daffa percaya pada sandiwaranya.
“Sudahlah, saya tidak akan membahas hal tadi. Istirahatlah.” Daffa mencium pundak istrinya. “Saya sangat menyayangimu, Hanna.”
Hanna terdiam. Ada hangat di dadanya, tetapi ia masih belum siap membuka mata. Perlahan, Daffa merebahkan dirinya, memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian, dengkuran asli mulai terdengar—kali ini dari Daffa. Hanna membuka matanya. Ia menoleh pelan, menatap suaminya yang sudah terlelap. Wajah Daffa tampak lelah, ada kerutan halus di dahinya yang bahkan saat tidur pun tidak hilang.
“Maafkan aku, Mas,” batin Hanna. “Aku sedang tidak ingin berdebat lagi malam ini.”
Ia mengulurkan tangan, menyentuh lembut pipi suaminya, lalu berbisik, “Aku juga sayang kamu, Mas.”
--
🌅 Pagi Hari
Mentari pagi mulai menyelinap di balik tirai kamar. Suara adzan subuh menggema dari kejauhan. Hanna terbangun, tetapi Daffa sudah tidak ada di sampingnya.
Ia duduk, mengucek mata, lalu keluar kamar menuju kamar mandi. Di dapur, Ia melihat ibunya sedang berkutat dengan kompor. Rutinitas pagi hari, ibunya selalu bangun paling awal dan menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Jasa ibu memang tidak akan pernah bisa dibalas dengan apa pun.
“Baru bangun, Kak?” Fahri membawa lap pel dan ember. Ia baru selesai mengepel lantai. Setiap libur sekolah, ia selalu membantu ibu menyapu dan mengepel lantai.
“Iya, nih, Kakak gak bisa tidur semalam.” Hanna menutup mulutnya yang kembali menguap.
“Cieee, yang semangat mau bangun rumah, sampai gak bisa tidur.” Goda Fahri.
“Apa sih, kamu... Nanti kamu ikut bantuin, ya!”
“Boleh, asalkan ada upahnya.” Lagi-lagi Fahri menggoda Hanna.
“Nanti aku kasih upah. Mi ayam.” Hanna menjulurkan lidahnya, kemudian berlari ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Hanna melangkah menuju ruang makan. Aroma nasi goreng dan telur dadar menyeruak dari dapur, membuat perutnya keroncongan. Di meja makan, Pak Reza sudah duduk dengan koran di tangannya, sementara Daffa sibuk menata sendok dan garpu.
“Selamat pagi, Ayah... Mas,” sapa Hanna sambil duduk di samping suaminya.
“Pagi, Nak. Kamu tidur nyenyak?” tanya Pak Reza sambil menurunkan kacamatanya.
Hanna tersenyum tipis. “Lumayan, Yah.”