Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #11

Bab 11

Setelah bersiap, Hanna dan Bu Rani berjalan keluar rumah. Fahri yang sedang duduk di teras langsung menoleh.


“Bu, Kak, mau ke mana?”


“Belanja, Nak. Kamu jaga rumah, ya,” jawab Bu Rani.


“Boleh ikut, Bu?” Fahri memohon dengan wajah memelas.


“Kamu kan tadi sudah bantu bersih-bersih. Istirahatlah di rumah.”


Fahri mendengus, tetapi tidak membantah. “Ya sudah, Bu. Tapi, jangan lupa belikan camilan!”


Bu Rani menggeleng sambil tersenyum kecil. Hanna tertawa melihat tingkah adiknya.



Sepanjang perjalanan menuju pasar, Hanna dan Bu Rani berjalan berdampingan. Suasana terasa berbeda—lebih ringan dari biasanya. Hanna mencuri pandang ke arah ibunya yang sesekali menatap kiri dan kanan, seperti biasa, tetapi kali ini tidak ada ketegangan di raut wajahnya.


“Bu, kita sekalian saja belanjanya. Buat stok satu minggu ke depan. Bahan makanan yang bisa tahan di dalam kulkas saja, Bu. Sama rokok dan kopinya juga, deh, Bu.”


“Iya, kamu kan lagi hamil. Jadi, jangan sering-sering bawa motor juga.”


Hanna tersenyum mendengar ucapan ibunya. Perhatian kecil seperti itu jarang ia dapatkan akhir-akhir ini. “Iya, Bu. Nanti belanjaannya Ibu yang bawakan, ya. Aku kan tidak boleh bawa beban berat, Bu.” Wajahnya dibuat memelas seperti anak kecil yang sedang memohon.


Bu Rani mendelik, tetapi senyumnya tak bisa disembunyikan. “Kamu ini, masa iya Ibu nyuruh kamu bawa belanjaan.”


Hanna tertawa kecil. Di tengah hiruk-pikuk pasar, ia merasakan kehangatan yang lama hilang—kehangatan seorang ibu yang kembali hadir tanpa syarat.



Setelah berbelanja cukup lama, Hanna dan Bu Rani berjalan keluar dari pasar dengan tangan penuh. Bu Rani membawa dua kantong besar berisi sayuran dan bumbu, sementara Hanna membawa satu kantong berisi telur dan bahan kering.


“Bu, kok Ibu ambil banyak sekali? Nanti berat,” kata Hanna khawatir.


“Ibu masih kuat, Han. Kamu jangan angkat barang yang berat.” jawab Bu Rani sambil terus melangkah.


Hanna tersenyum. “Iya, baik, Nyonya.”


Bu Rani tertawa ringan mendengar candaan putri sulungnya.



Sepanjang perjalanan pulang, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


“Bu, besok Mas Daffa dan Ayah mulai bangun rumah. Apa Ibu tidak sedih?” tanya Hanna tiba-tiba.


Bu Rani terdiam beberapa saat. “Sedih? Kenapa harus sedih?”


“Ya... aku pindah ke depan rumah. Jadi, tidak satu rumah lagi dengan Ibu.”


Bu Rani menghela napas. “Ibu sedih, pasti. Tapi, Ibu juga senang.”


Hanna menatap ibunya. “Senang?”


“Iya. Kamu sudah punya rumah sendiri. Itu tandanya kamu sudah dewasa. Dan Ibu...” Bu Rani menatap putrinya dengan mata berbinar. “Ibu juga bisa tetap melihat kamu setiap hari. Kan Cuma di depan rumah.”


Lihat selengkapnya