Setelah diskusi tentang jumlah kamar selesai, semua masuk ke kamar masing-masing.
Di kamar, Daffa kembali menatap sketsa di tangannya. Ia menambahkan beberapa garis, lalu mengangkat wajahnya.
“Satu hal lagi, Sayang. Saya pikir, pintu utama lebih baik menghadap ke selatan.”
Hanna mengerutkan kening. “Selatan? Kenapa, Mas? Bukannya timur lebih bagus untuk sinar matahari?”
“Iya, tapi...” Daffa terdiam sejenak. “Saya tidak mau pintu utama kita menghadap rumah Ibu.”
Hanna terkejut. “Kenapa, Mas?”
Daffa menghela napas. “Saya sudah sering merasa dinilai, Hanna. Setiap kali Ibu melihat sesuatu, selalu ada komentar. Saya tidak mau suatu hari nanti, Ibu melihat ada tamu datang atau ada sesuatu yang tidak beres, lalu komentar lagi.”
Hanna menggenggam tangan suaminya. “Mas, Ibu sudah berubah.”
“Saya tahu. Tapi, luka itu masih ada.” Daffa menatap istrinya dengan jujur. “Saya butuh waktu untuk benar-benar percaya.”
Ia menarik napas panjang. “Kalau kamu masih mau ikuti kata Ibu, lebih baik kamu saja sama Ibu yang bangun rumah. Biar saya cari tanah yang lain.” Emosi Daffa memuncak. Ia merasa ibu mertuanya terlalu ikut campur dan memaksakan kehendaknya. Selain itu, Hanna juga terkesan selalu menuruti keinginan ibunya tanpa mendengar pendapat suaminya sendiri.
Hanna menarik napas berat. “Aku yakin, Mas. Setelah kita pindah, semuanya akan kembali membaik. Seperti kata orang-orang, dalam satu atap sebaiknya hanya ada satu kepala keluarga. Mungkin ini maksudnya. Jika ada dua kepala keluarga, maka akan sering bertabrakan pendapat dan perbedaan keinginan.” Hanna berusaha tetap tegar, walau hatinya perih mengingat sang suami masih menyimpan luka yang menganga.
Daffa terdiam sejenak, mencoba menetralkan gejolak emosi yang menggebu di dalam hati.