Sementara itu, Bu Rani keluar dari dapur membawa nampan berisi gelas-gelas teh manis dan sepiring pisang goreng.
“Pak Mandor, Pak Tukang, silakan istirahat dulu. Minum teh dulu sebelum kerja,” tawarnya dengan ramah.
H. Mustofa dan timnya terkejut. “Wah, Ibu baik sekali. Terima kasih, Bu. Kami baru datang sudah disuguhi.”
“Tidak apa-apa, Pak. Biar segar dulu, nanti kerjanya lebih semangat,” kata Bu Rani sambil tersenyum.
Hanna tersenyum melihat ibunya. Bu Rani begitu tulus.
Setelah minum teh dan mengobrol sebentar, H. Mustofa dan timnya mulai bekerja. Mereka membongkar peralatan, mengukur tanah, dan mulai memasang patok-patok sebagai tanda pondasi.
“Pak Daffa, kami mulai dari pondasi dulu ya!” teriak H. Mustofa dari kejauhan.
“Iya, Pak!” jawab Daffa dari teras.
Suara palu mulai terdengar. Debu tanah mulai berhamburan. Fahri yang sejak tadi duduk di pinggir, terus mengamati gerak-gerik para tukang dengan penuh rasa ingin tahu. Sesekali ia melompat dan bertepuk tangan ketika para tukang berhasil memasang patok dengan sempurna.
Pak Reza yang berdiri di samping Daffa, menepuk bahu menantunya. “Daffa, lihat itu. Mimpi kalian mulai terwujud.”
Daffa mengangguk, matanya berbinar. “Iya, Yah. Saya tidak percaya ini benar-benar terjadi.”
“Ayah tahu, Nak. Perjalanan ini panjang dan berat. Tapi, Ayah bangga sama kamu, karena kamu tidak pernah menyerah.”
Daffa menunduk, air mata hangat mengalir di sudut matanya. “Terima kasih, Yah. Semua ini karena doa dan dukungan Ayah.”
Pak Reza melinting lengan bajunya. “Spesial untuk Hanna, Ayah akan turun tangan.” Ia mendekati para pekerja.
“Aduh, Bapak. Tidak perlu, biar kami saja,” ucap H. Mustofa.
“Tangan saya gatal kalau Cuma nonton saja, Pak. Tidak apa-apa, spesial buat anak sulung saya, Pak.” Pak Reza dulu sering bekerja di bangunan. Ia bisa dibilang pakar bangunan. Ia sudah sangat ahli dalam membangun rumah bergaya apa pun. Maka dari itu, saat ini ia bersikukuh ingin ikut membantu membangun rumah putri kesayangannya.
“Baiklah, Pak. Silakan.”
“Ayah! Fahri ikut!” Fahri berlari menghampiri ayahnya.
Daffa tidak bisa diam. Sesekali ia mendekati area pembangunan, mengamati setiap gerakan tukang dengan teliti. Kadang ia bertanya, kadang ia hanya tersenyum melihat tanah yang mulai berubah bentuk. Ia sudah tidak tahan lagi. Akhirnya ia membantu Fahri mengangkut batu-batu kali yang akan digunakan untuk fondasi.
Waktu berjalan dengan cepat. Para tukang bekerja dengan sigap di bawah terik matahari pagi yang mulai meninggi. Suara palu, cangkul, dan obrolan ringan para pekerja menjadi musik pengiring hari itu.