Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #14

Bab 14

Pukul 07.00 pagi,  suara kendaraan mulai terdengar. Daffa yang baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaian kerjanya, terkejut melihat beberapa mobil dan motor berhenti di depan rumah.


Dari dalam mobil pertama, turun empat orang pria paruh baya dengan tubuh kekar dan senyum lebar. Mereka membawa berbagai peralatan bangunan—cangkul, sekop, dan ember.


“Pak Reza! Kami datang, Pak!” teriak salah seorang dari mereka dengan suara lantang.


Pak Reza yang sedang duduk di teras sambil menikmati teh hangat, langsung berdiri deng an mata berbinar. “Wah, kalian semua datang! Ayo, ayo, masuk!”


Hanna yang mendengar keramaian dari dalam kamar segera keluar. Matanya membulat melihat banyak orang di halaman rumah.


“Bu, ini siapa?” tanya Hanna pada ibunya yang juga keluar dari dapur.


“Itu teman-teman Ayah, Han. Mereka datang membantu membangun rumahmu.” Bu Rani tersenyum. “Mereka menghubungi Ayah kemarin dan ingin membantu.”



Pak Reza menyalami satu per satu teman-temannya dengan penuh kehangatan.


“Pak Hartono, Pak Jumadi, Pak Slamet, Pak Karso! Terima kasih sudah datang, Pak.”


“Tentu saja, Pak! Teman sendiri mau bangun rumah, tidak mungkin kami tidak datang!” jawab Pak Hartono sambil tertawa. “Lagipula, sudah lama kami tidak kumpul-kumpul seperti ini.”


“Iya, Pak Reza. Ini sekalian silaturahmi,” sambung Pak Jumadi. “Kami bawa peralatan sendiri, Pak. Siapa tahu ada yang kurang.”


“Wah, kalian ini...” Pak Reza terharu. Tangannya menggenggam erat tangan sahabat-sahabatnya.



Daffa menghampiri rombongan itu dengan langkah cepat. Ia menunduk hormat. “Selamat pagi, Bapak-bapak. Terima kasih sudah bersedia membantu.”


Pak Hartono menepuk bahu Daffa. “Kamu pasti Daffa, ya? Menantu Pak Reza. Jangan sungkan, Nak. Kami di sini untuk membantu.”


“Iya, Pak. Saya sangat berterima kasih.”


“Sudah, jangan banyak ngobrol. Ayo, kita mulai kerja!” seru Pak Slamet bersemangat.



H. Mustofa yang baru datang dengan timnya, terkejut melihat rombongan sudah siap di halaman.


“Wah, Pak Reza, Bapak datangkan bala bantuan, ya?” candanya.


“Iya, Pak. Ini teman-teman saya. Mereka mau ikut membantu,” jawab Pak Reza sambil tersenyum.


“Bagus, Pak. Dengan begini, pekerjaan pasti lebih cepat selesai.”


Pukul 07.30, rombongan teman Pak Reza semakin bertambah. Beberapa motor berhenti di depan rumah. Para pria paruh baya dengan tubuh kekar dan senyum lebar turun satu per satu, membawa peralatan masing-masing.


Lihat selengkapnya