Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #15

Bab 15

Di dapur, suasana terasa lebih tegang. Bu Rani sedang sibuk mengaduk sayur di panci dengan gerakan yang kasar, tanpa berkata sepatah kata pun. Hanna mendekati ibunya dengan hati-hati.


“Bu...”


Bu Rani tidak menoleh. Tangannya terus mengaduk sayur dengan gerakan yang semakin cepat.


“Bu, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau Mas Daffa akan mengambil rokok itu.”


“Sudah, Han. Ibu tidak marah.” Suara Bu Rani datar, tetapi gerakannya berbicara lain.


“Bu, mereka datang membantu kita. Mas Daffa hanya ingin berterima kasih.”


“Ibu juga sudah masak untuk mereka. Itu sudah cukup.”


Hanna menarik napas. “Tapi, Bu, rokok itu hanya rokok. Tidak sebanding dengan kebaikan mereka.”


Bu Rani berhenti mengaduk. Ia menoleh, menatap putrinya dengan sorot yang sulit dibaca. “Ibu hanya tidak suka kalau Daffa bertindak tanpa bertanya dulu. Itu saja.”


Hanna menggenggam tangan ibunya. “Bu, Mas Daffa tidak bermaksud buruk. Dia hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihnya.”


Bu Rani menghela napas panjang, lalu kembali mengaduk sayur. “Sudah, Han. Ibu mengerti. Sekarang, bawa ini ke teras.” Ia menyerahkan panci berisi sayur gudeg. “Biar para pekerja tambah lauknya.”


Hanna tersenyum lega. “Iya, Bu.”


Saat Hanna kembali ke teras dengan panci sayur gudeg, Daffa langsung menoleh.


“Wah, sayur gudeg tambahan! Kalian semua harus coba, ini buatan Ibu!” seru Daffa dengan antusias.


“Ibu Rani memang juara masak!” sahut Pak Hartono.


Daffa tertawa, sama sekali tidak menyadari bahwa baru saja terjadi gejolak kecil di dapur antara Hanna dan ibunya. Ia menatap istrinya yang tersenyum, lalu menggenggam tangannya.


“Kamu baik-baik saja, Sayang?”


“Iya, Mas. Aku baik-baik saja.”


Daffa tersenyum lebar, lalu kembali menikmati makan siang bersama teman-teman ayahnya. Hanna hanya diam, menatap suaminya yang tampak begitu bahagia. Untuk sesaat, ia memilih untuk melupakan kegelisahan yang baru saja berlalu.


“Semoga ini yang terbaik,” batinnya. “Semoga tidak ada lagi konflik.”

 

Sore mulai merambat ketika para pekerja mulai menyelesaikan tugas mereka. Suara palu dan cangkul mulai mereda, digantikan oleh obrolan santai dan tawa. Di halaman yang sebelumnya dipenuhi debu dan keramaian, kini mulai terlihat bentuk—pondasi rumah yang kokoh telah selesai dicor, batu-batu tertata rapi, dan bayangan dinding mulai terlihat samar.


H. Mustofa menghampiri Daffa yang masih berdiri di dekat pondasi, matanya tidak lepas dari hasil kerja keras hari itu.


“Pak Daffa, untuk hari ini cukup dulu. Semua sudah kami selesaikan. Besok kami lanjut pemasangan bata untuk dinding,” ucap H. Mustofa sambil mengelap keringat di dahinya.


Daffa menoleh, tersenyum lebar. “Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak dan tim.”


“Ah, ini pekerjaan kami, Pak. Senang bisa membantu.”



Dari teras, Pak Reza berteriak memanggil semua orang.


“Bapak-bapak! Sebelum pulang, kita kumpul dulu! Istri saya sudah siapkan minuman lagi!”

Lihat selengkapnya