Hanna duduk di tepi tempat tidur, sendirian. Daffa masih di kamar mandi. Ia mendengar suara air mengalir dari balik pintu. Dadanya terasa sesak, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa harus begini terus?" batinnya. "Aku selalu berada di antara Ibu dan Mas Daffa. Aku selalu harus memilih. Padahal, aku tidak mau memilih salah satu."
Ia menggenggam erat ujung baju gamisnya, mencoba menahan tangis yang mulai berontak. Air mata tetap jatuh, satu per satu membasahi pipinya.
"Di satu sisi, aku mengerti perasaan Ibu. Dia hanya khawatir. Dia tidak mau uang kami habis untuk hal-hal yang tidak perlu. Tapi, di sisi lain, aku juga mengerti perasaan Mas Daffa. Dia ingin menunjukkan rasa terima kasihnya. Dia merasa malu kalau tidak bisa memberi apa-apa."
Hanna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya tertahan, tetapi bahunya bergetar.
"Kenapa aku tidak bisa membuat mereka berdua mengerti satu sama lain? Kenapa aku selalu gagal?"
---
Di dalam kamar mandi, Daffa berdiri di depan wastafel. Air mengalir dari keran, tetapi ia tidak benar-benar mencuci muka. Ia menatap pantulannya di cermin, melihat rahangnya yang masih mengeras, urat-urat di keningnya yang masih tegang.
"Saya terlalu emosian," batinnya. "Hanna tidak salah. Ibu juga tidak salah. Saya hanya tidak suka merasa diatur."
Ia memegang pinggiran wastafel, menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi.
"Hanna ada di tengah-tengah. Dia selalu ada di tengah-tengah. Dan saya selalu membuatnya memilih."
Daffa menutup keran. Ia menatap cermin sekali lagi, lalu menghela napas panjang.
---
Pintu kamar mandi terbuka. Daffa keluar dengan wajah sedikit basah. Ia melihat Hanna duduk di tepi tempat tidur, punggungnya membelakang, bahunya bergetar pelan.
Daffa mendekat dengan langkah pelan. Ia duduk di samping istrinya, lalu menggenggam tangannya.
"Sayang..."
Hanna tidak menoleh. Tangisnya semakin tidak terbendung.
"Hanna, tolong maafkan saya."
Hanna masih diam. Daffa mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Saya terlalu emosian. Saya tidak mau membuatmu terjebak di antara aku dan Ibu."
Hanna akhirnya menoleh. Wajahnya basah oleh air mata. "Mas, aku lelah. Aku selalu berada di tengah-tengah. Aku tidak mau memilih salah satu dari kalian."
"Saya tahu, Hanna. Dan saya minta maaf." Daffa mengusap pipi istrinya. "Saya janji, saya akan bicara dengan Ibu besok. Saya minta maaf padanya. Saya juga akan mengikuti saran Ibu soal rokok."
Hanna menatap suaminya. "Benarkah, Mas?"
"Benar, Sayang. Saya tidak mau melihatmu menangis seperti ini. Saya tidak mau kamu terus-menerus terjebak."
Hanna memeluk suaminya erat-erat. Daffa membalas pelukan istrinya, mengusap rambutnya dengan lembut.
"Terima kasih, Mas."
"Saya yang harus berterima kasih, Sayang. Karena kamu selalu sabar menghadapi aku."