Satu minggu telah berlalu. Pembangunan rumah berjalan lancar, tetapi di dalam rumah, persediaan mulai menipis. Beras hampir habis. Jarum pada tabung gas juga sudah menunjuk warna merah, pertanda gas di dalam tabung itu sudah menipis.
Setelah salat Magrib, Pak Reza duduk di teras sambil menggaruk kepalanya. “Han, beras kita tinggal sedikit. Gas juga mau habis. Ayah mau ke warung, tapi tidak mungkin bawa beras dan gas sekaligus.”
Hanna yang sedang duduk di ruang tamu menoleh. “Aku minta Mas Daffa bantu, Yah.”
Hanna beranjak menuju kamar. Daffa terbaring di atas tempat tidur, ponsel di tangannya.
“Mas, Ayah mau beli beras dan gas. Kamu temani Ayah, ya?”
Daffa menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. “Saya sedang tidak enak badan, Sayang. Kepala saya pusing.”
Hanna mengerutkan kening. “Tapi, Mas, Ayah tidak mungkin bawa dua barang sekaligus.”
“Minta Fahri saja. Dia kan masih muda dan kuat. Uangnya kamu ambil saja di dalam tas kerja saya.”
Hanna menarik napas panjang, menahan kecewa. “Baiklah, Mas.”
Hanna kembali ke ruang tamu dengan langkah berat. Bu Rani yang mendengar percakapan dari dapur, keluar dengan ekspresi datar tetapi matanya menyimpan gejolak.
“Sudah, Han. Biar Ibu yang minta Fahri.”
“Bu, Mas Daffa bilang dia sakit.”
Bu Rani mendengus pelan. “Sakit? Tadi siang masih baik-baik saja. Sekarang tiba-tiba sakit.”
Hanna terdiam. Ia tidak tahu harus membela suami atau diam. Karena jujur, dirinya sendiri pun merasa Daffa keterlaluan.
Bu Rani menghampiri Fahri yang sedang duduk di kamarnya, belajar. “Fahri, tolong temani Ayah beli beras dan gas.”
Fahri langsung berdiri. “Siap, Bu! Fahri bantu!”
“Kamu jangan capek-capek, ya. Nanti kamu kelelahan.”
“Iya, Bu. Fahri kuat.”
Fahri berlari ke teras menemui Pak Reza. “Ayah, ayo! Fahri bantu!”
Pak Reza tersenyum. “Makasih, Nak.”
Di dalam rumah, Bu Rani masih berdiri di dekat dapur, menatap ke arah kamar Daffa yang tertutup. Ia menggigit bibirnya, menahan amarah yang mulai mendidih.
“Dia yang punya uang, jadi tidak mau ikut membantu tugas rumah,” batinnya. “Dia sakit, padahal tadi siang masih sehat. Sekarang Ayah dan Fahri yang harus pergi beli beras dan gas.”
Ia menoleh ke arah Hanna yang sedang duduk lesu di sofa. Hatinya perih melihat putrinya yang selalu berusaha menjadi penengah.