Tiga bulan berlalu. Rumah masih belum selesai. Bahan bangunan sudah habis, uang Daffa pun sudah habis. Para pekerja terpaksa harus dihentikan sejak satu bulan setelah pembangunan dimulai.
Rumah Daffa sudah beratap, namun ada beberapa bagian dinding yang belum tertutup. Area dapur dan kamar mandi pun belum siap. Di beberapa sudut, tumpukan pasir dan semen yang tersisa mulai mengeras terkena hujan. Papan-papan bekas berserakan di halaman. Rumah itu tampak seperti mimpi yang terhenti di tengah jalan.
Daffa duduk di teras rumah mertua, menatap bangunan yang terbengkalai. Rumah itu sudah berdiri dengan atap merah menyala, tetapi dinding di bagian belakang masih terbuka. Tembok kamar mandi baru setinggi dada. Lantai dapur masih tanah. Angin sore masuk melalui celah-celah dinding yang kosong, membawa debu dan daun kering.
Hanna mendekati suaminya dengan langkah pelan. Ia duduk di samping Daffa, lalu menggenggam tangannya.
“Mas, masih bisa kita lanjutkan, kok. Perlahan.”
Daffa tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada rumah setengah jadi itu.
“Mas...”
“Hanna, saya gagal.” Suara Daffa serak, seperti menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kelelahan. “Saya janji akan bangun rumah untuk kamu. Tapi, sekarang malah terbengkalai.”
“Mas, ini bukan gagal. Ini hanya butuh waktu.”
“Waktu? Ini sudah bulan ketiga, Hanna. Uang sudah habis. Bahan bangunan juga habis. Para pekerja sudah lama dihentikan.” Daffa membuang napas kasar. “Saya tidak tahu harus bagaimana lagi.”
Hanna menggenggam erat tangan suaminya. “Kita cari jalan keluar, Mas. Bersama.”
Daffa menatap istrinya. Matanya sembab, ada luka di sana yang tak terucap. “Saya minta maaf, Hanna. Saya tidak bisa memberimu rumah yang sempurna.”
“Aku tidak butuh rumah sempurna, Mas. Aku butuh kamu.” Hanna mengusap pipi suaminya. “Dan rumah ini, walaupun belum selesai, sudah menjadi milik kita. Itu sudah lebih dari cukup.”
Daffa tidak menjawab perkataan istrinya. Matanya kembali menatap rumah impiannya.
“Mas...” Hanna menepuk pundak suaminya.
Daffa menoleh. “Ada yang mau saya tanyakan, boleh?” Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Hanna akhirnya memutuskan untuk bertanya.
“Apa?” jawab Daffa singkat.
“Kamu... Itu, kamu...” Hanna bingung, bagaimana caranya bertanya tanpa menyinggung perasaan suaminya.
“Kenapa? Kamu mau tanya apa?” Kini Daffa duduk menghadap Hanna.
“Kamu... kamu masih ada simpanan kan buat persalinan aku nanti, Mas?” Walau ragu dan takut Daffa tersinggung, Hanna harus menanyakan hal ini, karena sudah sejak kemarin pertanyaan ini mengganjal di hatinya.