Sesampainya di rumah, Hanna dan Daffa masuk ke ruang keluarga dengan senyum lebar.
"Kami pulang!" seru Hanna.
Fahri yang sedang belajar di meja langsung menoleh. "Kak, gimana? Anaknya sehat kan?"
Hanna tersenyum, lalu mengeluarkan foto USG. "Fahri, kamu lihat ini."
Fahri mendekat, menatap foto hitam-putih itu dengan heran. "Ini apa, Kak? Kok ada dua?"
Hanna tertawa. "Iya, Fahri. Ada dua. Kakak mengandung anak kembar."
Fahri terperangah. "Kembar?! Serius, Kak?!"
Hanna mengangguk. "Serius."
Fahri langsung melompat. "Ya Allah! Aku akan punya dua keponakan! Ini keren banget!"
Bu Rani yang mendengar keributan dari dapur, segera keluar. "Ada apa, Fahri? Berisik sekali."
"Bu! Kakak mengandung anak kembar!" seru Fahri bersemangat.
Bu Rani tertegun. Ia menatap Hanna, lalu menatap foto USG yang dipegang Fahri. "Benarkah, Han?"
Hanna tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Bu. Kembar."
Bu Rani mendekat, menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat menyentuh foto. "Dua sekaligus, ya." Bu Rani mengusap sudut matanya. "Allah memang sayang sama kamu, Han."
Hanna memeluk ibunya. "Terima kasih, Bu. Bu, aku butuh doa Ibu dan restu Ibu."
Bu Rani mengangguk sambil terisak haru. "Ibu selalu mendoakanmu, Nak. Dari dulu sampai sekarang."
Pak Reza yang mendengar kabar itu, langsung menghampiri Hanna dan mencium kening putrinya. "Ayah bangga, Han. Tidak sabar melihat cucu Ayah lahir."
---
Saat malam tiba, Hanna dan Daffa duduk di kamar. Hanna masih memegang foto USG, menatapnya dengan takjub.
"Mas, kita akan punya dua anak."
Daffa tersenyum, tetapi raut wajahnya masih menyimpan kegelisahan. "Iya, Sayang. Dua anak."
"Mas, ada yang mau aku sampaikan." Hanna menatap suaminya serius.
"Apa, Sayang?"
"Kita harus bekerja sama. Untuk mereka."
Daffa mengangguk. "Aku janji, Sayang. Aku akan berusaha lebih keras."