Pagi harinya, Daffa bangun lebih awal. Hari pertama bekerja di gudang. Ia bersiap dengan cepat, mengambil handuk dan baju ganti yang sudah ia siapkan semalam. Namun, karena terburu-buru, handuk dan baju kotornya ia letakkan di atas kursi ruang tamu, bukan di kamar mandi seperti biasa.
Bu Rani yang sedang menyapu teras, melihat handuk dan baju Daffa berserakan. Ia mendengus, tetapi tidak langsung menegur Daffa. Daffa sudah pergi. Yang ada di rumah hanya Hanna.
“Han, lihat ini!” panggil Bu Rani dengan nada kesal.
Hanna yang sedang duduk di kamar, segera menghampiri ibunya. “Ada apa, Bu?”
“Ini! Handuk dan baju suamimu! Ditaruh di kursi ruang tamu! Ibu sudah capek bersih-bersih, masih ditambah barang-barang berantakan!”
Hanna menatap handuk dan baju Daffa yang tergeletak di kursi. “Maaf, Bu. Mas Daffa tadi buru-buru. Aku akan bereskan.”
“Kamu selalu bilang akan bereskan! Tapi, ini sudah berkali-kali terjadi, Han! Handuk di sini, baju di sana, gelas di pinggiran tembok! Kesenggol sedikit gelas itu bisa jatuh dan pecah!” Bu Rani menunjuk ke arah gelas yang memang tergeletak di pinggir tembok. “Ibu ini mertua, bukan pembantu!”
Hanna menunduk. “Maaf, Bu. Aku akan bicara dengan Mas Daffa.”
“Bicara? Kamu selalu bilang akan bicara! Tapi, tetap saja begitu! Suamimu tidak pernah berubah!”
Hanna menggigit bibirnya, menahan tangis yang mulai menggenang di matanya. “Bu, Mas Daffa baru mulai kerja. Dia pasti capek. Aku janji akan membereskan semua.”
Bu Rani mendengus, lalu pergi ke dapur dengan langkah cepat.
Hanna menghela napas panjang, lalu mengambil handuk dan baju Daffa, membereskannya ke kamar mandi. Ia juga mengambil gelas yang tergeletak di pinggiran tembok dan mencucinya.
Di dapur, Bu Rani masih bergumam sendiri. “Anak itu, sudah dinasihati berkali-kali tetap saja. Sudah punya istri, masih seperti anak kecil. Semua berantakan!”
Hanna yang mendengar gumaman ibunya, hanya bisa diam. Ia tidak ingin menambah panjang masalah.
Sepanjang hari, Bu Rani terus mencari-cari kesalahan Daffa, dan melampiaskannya pada Hanna.
“Han, kamu lihat gunting kuku? Ke mana sih, masa gunting kukunya punya kaki bisa jalan sendiri. Pasti suami kamu nih, kalau sudah pakai tidak disimpan di tempatnya lagi.”
“Han, piring bekas makan Daffa tidak langsung dia cuci? Kebiasaan. Ibu sudah cuci semua piring kotor bekas semalam. Kalau ada cucian baru itu pasti bekas Daffa!”
“Han, kamu lihat dapur ini? Berantakan sekali! Daffa masak nasi goreng, ya tadi?”
Setiap teguran selalu ditujukan pada Hanna, padahal yang membuat berantakan adalah Daffa. Hanna hanya bisa mengangguk dan memperbaiki semua yang ditegur ibunya.
Sore harinya, Daffa pulang dengan tubuh penuh keringat dan debu. Ia masuk ke rumah, hendak langsung ke kamar mandi. Namun, sebelum melangkah, ia melihat Hanna sedang mengepel lantai dengan mata sembab.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Daffa cemas.
Hanna tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya capek.”
Daffa menatap istrinya curiga. Ada sesuatu yang disembunyikan Hanna. Matanya sembab, hidungnya sedikit merah.
“Hanna, ada apa?”