Hari ini, hari Minggu. Daffa tidak bekerja di gudang. Ia memilih untuk beristirahat di rumah, menemani Hanna yang sedang hamil besar. Pagi itu, setelah sarapan, Daffa duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat. Hanna duduk di sampingnya, sesekali mengusap perutnya yang semakin membuncit.
"Mas, hari ini kamu istirahat aja. Jangan pikirkan kerja dulu," kata Hanna lembut.
"Iya, Sayang. Aku juga capek. Hari ini aku mau di rumah aja."
Daffa meletakkan gelas tehnya di pinggir meja, hampir di ujung—sebagian gelas menggantung di luar permukaan meja. Ia tidak menyadarinya karena matanya tertuju pada perut istrinya.
Bu Rani yang sedang menyapu ruang tamu, melihat gelas itu. Matanya langsung menyipit.
"Daffa!" suara Bu Rani memecah keheningan.
Daffa menoleh. "Ada apa, Bu?"
"Kamu lihat gelasmu? Kamu letakkan di pinggir meja begitu! Kesenggol sedikit pasti jatuh! Ini sudah berapa kali Ibu bilang?" Bu Rani berjalan mendekat, mengambil gelas itu dengan gerakan kasar, lalu meletakkannya di tengah meja dengan keras. "Kamu ini tidak pernah belajar, ya? Gelas di pinggir meja, handuk dijemur sembarangan, baju digulung!"
Daffa terdiam, tetapi rahangnya mulai mengeras. "Maaf, Bu. Saya tidak sadar."
"Tidak sadar? Kamu selalu bilang tidak sadar! Padahal, kamu sudah dewasa! Sudah berkeluarga! Harusnya lebih bertanggung jawab!"
Hanna yang melihat suaminya mulai tegang, segera angkat bicara. "Bu, Mas Daffa baru saja duduk. Dia belum sadar kalau gelasnya di pinggir."
"Han, kamu selalu membelanya! Ibu sudah capek!"
Daffa berdiri, matanya menatap Bu Rani dengan sorot yang selama ini ia tahan. "Bu, saya sudah berusaha. Saya sudah berusaha rapih. Tapi, setiap kali saya berbuat salah sedikit, Ibu langsung marah. Saya juga manusia, Bu. Saya capek."
Bu Rani terkejut mendengar jawaban Daffa. "Kamu capek? Ibu juga capek!"
"Saya tahu, Bu. Tapi, saya juga punya perasaan." Daffa menunduk, menahan emosi. "Saya minta maaf kalau saya sering membuat Ibu kesal. Tapi, saya mohon, jangan selalu marah-marah. Saya tidak mau Hanna stres melihat kita bertengkar terus."
Udara di ruangan terasa tegang. Hanna menggenggam tangan Daffa, mencoba menenangkan.
Bu Rani terdiam. Kata-kata Daffa menusuk hatinya. Ia melihat menantunya yang tampak lelah, bukan hanya fisik, tetapi juga hati.
"Daffa..." Bu Rani menghela napas panjang. "Ibu... Ibu hanya ingin semuanya rapih. Ibu tidak suka barang-barang berantakan."
"Saya mengerti, Bu. Tapi, saya juga sedang belajar." Daffa menatap mertuanya dengan sorot lembut. "Saya mohon, bersabarlah dengan saya."
Bu Rani tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala, lalu kembali menyapu. Namun, gerakannya kali ini lebih pelan, tidak sekasar sebelumnya.
Daffa beranjak ke kamar. Hanna menatap punggung suaminya. Ia yakin, Daffa sedang menahan emosi. Ia memutuskan untuk mengikuti suaminya. Saat Hanna masuk ke dalam kamar, ia melihat Daffa sedang bersiap.
"Mas, mau ke mana? Ini kan hari Minggu, tadi katanya kamu mau istirahat di rumah."