Suatu hari, Hanna memutuskan untuk menjenguk Daffa di rumah Hardi. Ia sudah tidak tahan dengan rasa penasaran yang terus menggerogoti hatinya. Selama berminggu-minggu, mereka hanya bertemu singkat. Paling lama Daffa menginap satu malam di rumah lalu pergi lagi di pagi hari. Ia butuh Daffa, ia ingin memeluknya, meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun, saat tiba di rumah Hardi, Hanna terkejut. Hardi yang membuka pintu tampak bingung melihat Hanna.
“Hanna? Ada apa?”
“Aku mau ketemu Mas Daffa. Apa Mas Daffa ada di dalam?” tanya Hanna pelan.
“Daffa? Daffa tidak ada di sini, Han.” Hardi kebingungan. “Memangnya dia pamit sama kamu bilang mau kesini?”
Hanna tertegun. “Tidak di sini? Tapi, Mas Daffa bilang dia menginap di sini.”
Hardi mengerutkan kening. “Daffa tidak pernah nginep di sini, Han. Dia Cuma mampir sebentar kalau ada keperluan, terus pulang. Aku kira dia di rumah kamu.”
Darah Hanna serasa berhenti mengalir. Kepalanya terasa berputar. Selama ini, Daffa berbohong. Ia tidak menginap di rumah Hardi.
Hanna berdiri diam, pikirannya melayang. Hardi menatapnya dengan cemas.
“Han, kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali.”
Hanna menggeleng pelan. “Aku baik-baik saja, Hardi. Maaf sudah merepotkan.”
“Han, tunggu!” panggil Hardi, tetapi Hanna sudah berbalik pergi. Hardi takut terjadi sesuatu pada Hanna di jalan. “Ia sedang hamil besar dan wajahnya pucat sekali.” Hardi meraih ponsel di saku celananya. “Sebenarnya si Daffa itu kemana? Istrinya sampai nyari-nyari begitu.” Ia menggerutu sambil memencet kontak dengan nama Daffa di ponselnya. Namun, nihil. Daffa tidak mengangkat telepon darinya.
Sepanjang perjalanan pulang, Hanna tidak bisa menahan air matanya. Ia mengemudikan motor dengan pandangan kabur, hatinya hancur berkeping-keping.
“Kenapa Mas Daffa berbohong?” batinnya. “Apa yang dia sembunyikan? Kenapa dia lebih memilih tidur di luar daripada pulang ke rumah?”
Ia tidak tahu harus marah atau sedih. Yang ia tahu, rasa percayanya mulai retak.
Malam itu,Hanna tidak bisa tidur. Setelah pulang dari rumah Hardi, ia berdiam diri di kamar. Mengunci rapat pintu kamarnya, beralasan ingin istirahat saat orang tuanya bertanya. Sekarang, ia keluar dari kamar hendak mengambil segelas air minum. Ia lelah seharian menangis. Ia duduk termenung di ruang tamu.
“Mas Daffa berbohong. Selama ini dia berbohong.”
Hanna menggenggam erat ujung kerudungnya, mencoba menenangkan diri. Namun, pertanyaan-pertanyaan liar terus bermunculan di kepalanya.
“Kalau dia tidak di rumah Hardi, di mana dia selama ini?”
Ia membayangkan Daffa di suatu tempat yang tidak ia ketahui. Mungkin di rumah teman lain, atau mungkin...
Hanna menggeleng cepat. “Tidak, Mas Daffa, tidak mungkin. Dia bukan tipe orang seperti itu.”