“Mas, ini hari Minggu, kamu mau pergi lagi?” Hanna cemberut melihat suaminya yang sedang bersiap untuk pergi.
“Iya,” Daffa tersenyum, “hanya sebentar. Saya mau ambil barang-barang saya di tempat kost. Mulai hari ini, saya tidak pulang ke kost-an lagi.”
Mendengar perkataan suaminya, Hanna langsung mengubah cemberutnya menjadi senyum lebar.
“Benarkah?”
“Tentu saja. Melihat kamu menangis semalam membuat hati saya hancur, Hanna.” Daffa menunduk. “Maaf, karena saya selalu menjadi sebab turunnya air mata kamu.”
Hanna hanya mengangguk, lidahnya kelu. Ia memeluk erat suaminya.
Beberapa hari berlalu, Bu Rani memperhatikan Daffa yang kembali pulang setiap hari. “Kenapa suami kamu pulang lagi setiap hari? Diusir sama temannya?” ucap Bu Rani sinis.
“Sedang tidak ada kerjaan dengan Hardi, Bu.” Hanna menjawab pelan.
“Untung saja, Mas Daffa sedang kerja,” batinnya.
Bu Rani tidak terlalu menanggapi jawaban Hanna. Ia hanya membulatkan bibirnya, samar terdengar kata “Oh.”
Baru dua minggu Daffa kembali ke rumah, suasana rumah kembali memanas. Berbagai hal sepele selalu menjadi masalah.
Suatu sore, setelah menjemur pakaian, Bu Rani melipat semua baju dengan rapi. Ia kemudian membawanya ke kamar Hanna dan Daffa untuk disimpan ke dalam lemari. Namun, saat membuka pintu lemari, matanya langsung menyipit.
Lemari itu berantakan. Baju-baju yang sudah dilipat sebelumnya tampak acak-acakan, seperti ada yang mengobrak-abriknya.
“Hanna!” teriak Bu Rani dari dalam kamar.
Hanna yang sedang duduk di ruang tamu, segera menghampiri. “Ada apa, Bu?”
“Ini! Lemari kamu kenapa berantakan begini? Ibu baru saja melipat baju-baju ini kemarin!”
Hanna menatap lemari yang memang tampak kurang rapi. “Maaf, Bu. Mungkin aku yang tidak rapih menyimpannya.”
“Kamu? Ibu tahu ini pasti ulah Daffa! Dia selalu sembarangan! Ibu sudah capek melipat, tapi begitu disimpan, berantakan lagi!”