Tiga hari kemudian, pukul 02.00 dini hari, Hanna merasakan keram di perutnya. Ia membangunkan Daffa, karena keram di perutnya tak kunjung reda.
“Mas, bangun. Perut aku sakit, Mas.” Hanna terus mengelus-elus perutnya.
Daffa langsung terbangun. “Kenapa, Sayang?” Ia memegang perut Hanna.
“Perut aku keram dari tadi, Mas.”
Daffa panik. “Apa mungkin kamu mau melahirkan?” Hanna menggeleng tidak tahu.
“Aku panggil Ayah sama Ibu dulu, ya. Kamu tunggu sebentar.” Daffa berlari keluar kamar. Ia mengetuk pintu kamar mertuanya.
“Ayah! Ibu!” Ia terus mengetuk pintu kamar mertuanya.
“Iya, sebentar. Ada apa, Daffa?” teriak Pak Reza dari dalam kamar.
“Ayah, Ibu, maaf mengganggu, tolong lihat Hanna. Dia kesakitan, katanya perutnya keram.” Daffa tidak bisa diam, ia mondar-mandir menunggu di depan pintu.
Pintu kamar terbuka, Pak Reza dan Bu Rani bergegas menuju kamar Hanna.
“Sepertinya kamu mau melahirkan,” ucap Bu Rani.
“Ayah panggil Pak RW dulu, pinjam mobilnya buat antar Hanna ke rumah sakit.” Pak Reza kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya.
“Daffa, kamu ambilkan jaket dan kerudung Hanna. Kamu bawa tas yang sudah Ibu siapkan di lemari. Di sana sudah Ibu masukkan perlengkapan untuk melahirkan.”
Daffa mengangguk. “Iya, Bu.”
Fahri ikut terbangun, ia melihat kakaknya sedang mengandung kesakitan. “Kak Hanna mau melahirkan, Bu?”
“Iya, kamu jaga rumah. Doakan semoga persalinan kakak kamu lancar.”
“Aamiin, iya, Bu.”
Mobil Pak RW sudah tiba, mereka bergegas membawa Hanna ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, dokter langsung memeriksa Hanna. Ternyata Hanna masih di fase pembukaan dua. Masih harus menunggu beberapa waktu lagi untuk melahirkan. Dokter memeriksa detak jantung bayi Hanna.