Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #25

Bab 25

Hanna memejamkan matanya lebih erat, mencoba mengalihkan pikirannya. Namun, bayangan tentang bayi yang telah tiada terus menghantui. Air mata mengalir deras di pipinya, membasahi bantal operasi.


“Aku gagal menjadi ibu,” batinnya. “Satu bayiku sudah pergi sebelum sempat aku melihatnya.”


Tangannya gemetar, ingin meraih sesuatu—apa pun yang bisa membuatnya merasa tidak sendirian. Namun, tangannya terlalu lemah untuk diangkat. Ia hanya bisa menangis dalam diam.



“Bu, sebentar lagi selesai,” suara dokter terdengar menenangkan. “Ibu harus tetap tenang.”


Hanna mengangguk, tetapi tangisnya tak kunjung reda. Ia menahan sesak di dadanya, berusaha menguatkan diri. Tapi, hatinya hancur berkeping-keping.



Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Hanna mendengar suara tangisan bayi. Tangis kecil yang nyaring, yang seharusnya menjadi tangis kebahagiaan. Tapi, di telinga Hanna, tangisan itu terasa getir.


“Selamat, Bu. Bayi Ibu lahir sehat,” ucap dokter sambil tersenyum di balik masker.


“Anak saya, Dok...” suara Hanna bergetar. “Bayi saya yang satu lagi...”


Dokter terdiam sejenak. “Maaf, Bu. Kami sudah berusaha. Tapi, bayi yang satu lagi sudah tidak bisa diselamatkan.”


Hanna menutup matanya. Air matanya kembali mengalir, tetapi kali ini lebih deras, lebih hancur.


Saat terdengar suara stroller, Hanna membuka matanya. Sekilas ia melihat bayi yang dibawa keluar oleh perawat.


“Maafkan Mama, Sayang. Mama gagal menjaga kamu.”


Air mata itu tidak pernah berhenti mengalir. Ia merasakan sebagian dirinya ikut pergi bersama anaknya.



Di luar ruang operasi, Daffa duduk di kursi tunggu dengan tubuh gemetar. Ia menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat, berharap doanya didengar.


Pak Reza menggenggam erat tangan istrinya. Bu Rani duduk di sampingnya, matanya merah sembab. Fahri yang ikut datang, hanya bisa diam menatap pintu itu dengan tatapan kosong.


“Semoga Hanna dan bayinya selamat,” bisik Bu Rani pelan.



Setelah operasi selesai, Hanna dibawa ke ruang pemulihan. Ia masih setengah sadar, tetapi air matanya terus mengalir. Daffa segera masuk, menghampiri istrinya dengan langkah cepat.


“Sayang...” Daffa menggenggam tangan Hanna yang dingin.


Hanna menoleh perlahan. Matanya sembab, wajahnya pucat. “Mas... bayi kita...” suaranya terputus.


“Aku tahu, Sayang. Aku tahu.” Daffa mencium kening istrinya, air matanya jatuh membasahi pipi Hanna. “Kamu kuat, Hanna. Kamu sudah berjuang dengan sangat baik.”


“Aku gagal, Mas...”


“Tidak, Sayang. Kamu tidak gagal. Kamu sudah memberikan yang terbaik. Dan satu bayi kita, dia selamat. Dia menunggu kita.”

Lihat selengkapnya