Pintu ruang pemulihan tertutup kembali. Ruangan terasa sunyi. Hanya terdengar suara detak mesin monitor yang mengiringi napas Hanna yang masih tersengal.
Daffa duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan istrinya yang dingin. Ia tidak bicara, hanya menatap Hanna yang masih menatap kosong ke langit-langit.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Hanna bergumam pelan, nyaris tak terdengar, “Tiga hari yang lalu... Tiga hari yang lalu aku merasa ada yang hilang dari hidupku.”
Daffa menoleh, memperhatikan. “Maksudmu, Sayang?”
“Malam itu... ketika kamu mau pergi ke rumah Hardi. Aku menahanmu. Aku bilang aku merasa ada sesuatu yang pergi meninggalkan aku. Aku bilang perasaanku tidak enak.” Hanna menutup matanya, air mata mulai mengalir. “Dan kamu... kamu marah. Kamu tidak peduli. Kamu tetap ingin pergi.”
Daffa terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya.
“Sayang... saya tidak tahu...”
“Aku merasakannya, Mas. Bayiku pergi malam itu. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Hanna menangis lagi, lebih pelan, tetapi lebih dalam. “Aku gagal melindunginya.” Hatinya perih mengingat malam itu. “Seandainya sebelum malam itu kita periksa, kalau perlu kita lakukan operasi Caesar. Mungkin anak kita akan selamat, Mas.”
Daffa memeluk Hanna, membiarkan istrinya menangis di dadanya. “Bukan salahmu, Sayang. Ini bukan salah siapa-siapa.”
“Mas, aku memohon padamu. Aku minta kamu jangan pergi. Dan kamu tetap ingin pergi. Kamu tidak pergi, tapi kamu marah sama aku, Mas.”
Daffa menutup matanya, menahan sesak di dadanya. “Maafkan saya, Hanna. Maafkan saya.”
Hanna tidak menjawab. Ia hanya terus menangis, menumpahkan semua yang selama ini ia pendam. Daffa tidak berhenti memeluknya, membiarkan badai emosi itu berlalu.
Setelah tangisnya mulai mereda, Hanna berbisik, “Sekarang... aku hanya ingin melihat anakku. Aku ingin memeluknya. Aku ingin merasakan detak jantungnya.”
Daffa mengangguk. “Saya akan minta perawat untuk membawanya ke sini, Sayang.”
Beberapa menit kemudian, seorang perawat masuk dengan membawa bayi mungil yang terbungkus selimut putih. Bayi itu menangis pelan, seperti ikut merasakan kesedihan ibunya.
Hanna menerima bayinya dengan tangan gemetar. Air matanya mengalir lagi, tetapi kali ini berbeda. Bukan hanya sedih, tetapi ada sedikit harapan yang mulai muncul.
“Halo, Sayang... Mama di sini.” Hanna mencium kening bayinya yang mungil. “Maafkan Mama, ya, Sayang. Mama memisahkan kamu dari saudara kembarmu. Karena Mama, dia pergi meninggalkan kita.”
Hanna mengusap air matanya. “Mama janji, Mama tidak akan pernah meninggalkan kamu.”