Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #27

Bab 27

Pagi itu, Hanna dan Daffa pergi ke makam Arshan. Hanna duduk di samping pusara kecil itu, menatap nama putranya yang terukir di batu nisan. Air matanya mengalir pelan, tetapi kali ini lebih tenang.


“Arshan... Mama dan Papa datang.” Hanna mengusap batu nisan itu dengan lembut. “Mama minta maaf, Nak. Mama tidak bisa menjaga kamu. Tapi, Mama janji, Mama akan selalu mendoakanmu.”


Daffa berdiri di samping istrinya, tangannya menggenggam pundak Hanna. “Arshan, Papa juga minta maaf. Papa janji akan menjaga Mama dan adikmu. Dan Papa akan selalu mengingatmu.”


Hanna membacakan doa untuk putranya, suaranya lirih tapi mantap. Setelah selesai, ia mencium batu nisan itu satu kali, lalu berdiri.


“Aku siap pulang, Mas.”



Sesampainya di rumah, Hanna merasa sangat lelah. Matanya berat, tubuhnya terasa panas. Daffa menuntunnya ke kamar.


“Kamu istirahat saja, Sayang. Tidur sebentar.”


Hanna mengangguk, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Arkan sudah tidur di ayunan di sampingnya. Daffa berbaring di samping istrinya, dan tak lama kemudian, keduanya tertidur.



Tiba-tiba, Hanna merasakan tubuhnya sangat panas. Ia menggigil, kepalanya berdenyut. Ia mencoba membangunkan Daffa, tetapi suaminya tertidur pulas.


“Mas... Mas...” suaranya lemah, nyaris tak terdengar.


Daffa tidak bergerak. Ia masih terlelap.



Bu Rani yang sedang melewati kamar Hanna, mendengar suara rintihan pelan. Ia segera membuka pintu dan menghampiri Hanna. Saat tangannya menyentuh dahi Hanna, ia terkejut.


“Ya Allah, panas sekali!”


Bu Rani menoleh ke arah Daffa yang masih tertidur di samping Hanna. Matanya langsung menyipit.


“Daffa! Bangun!” teriaknya.


Lihat selengkapnya