Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #28

Bab 28

Tiga tahun berlalu.


Hanna masih tinggal di rumah orang tuanya. Rumah impian yang dulu dibangun Daffa dengan susah payah, kini hanya menjadi saksi bisu perjuangan yang tak kunjung usai. Dindingnya masih setengah jadi, atapnya mulai bocor di beberapa bagian, dan rumput liar tumbuh subur di halamannya. Setiap kali Hanna melewati rumah itu, hatinya terasa sesak.


Arkan kini sudah berusia tiga tahun. Bocah lincah yang selalu membuat Hanna tersenyum, tetapi juga sering menjadi pemicu ketegangan. Hari itu, Arkan sedang berlarian di ruang tamu, membawa mainan mobil-mobilannya. Bu Rani yang sedang duduk di kursi, mencoba menenangkan cucunya.


“Arkan, jangan lari-lari, nanti jatuh!” tegur Bu Rani.


Arkan tidak mendengar. Ia terus berlari, sampai akhirnya tersandung kaki meja dan jatuh. Tangisnya langsung pecah.


Bu Rani menghela napas panjang. “Sudah, sudah, jangan menangis.” Ia menggendong Arkan, mencoba menenangkannya. Namun, kepalanya mulai terasa pusing. “Han!” panggilnya.


Hanna yang sedang di dapur segera keluar. “Ada apa, Bu?”


“Kamu lihat anakmu! Nakal sekali! Ibu sudah pusing mengurusnya!”


Hanna mengambil Arkan dari gendongan ibunya. “Maaf, Bu. Arkan memang sedang aktif.”


Bu Rani mendengus, lalu duduk di kursi dengan tangan memijit pelipisnya. Suasana mulai memanas.



Di sisi lain, Daffa kembali jarang pulang. Ia menghabiskan waktunya di kost-an atau di rumah Hardi, entah untuk urusan pekerjaan atau sekadar menghindari rumah mertua. Hanna sudah lelah meminta suaminya pulang. Ia hanya pasrah.


Suatu malam, setelah Arkan tertidur, Hanna duduk di ruang tamu. Bu Rani menghampirinya dengan langkah tegas.


“Han, Ibu mau bicara.”


Hanna menoleh. “Ada apa, Bu?”


“Ibu sudah tidak kuat, Han. Arkan semakin besar, semakin nakal. Daffa jarang pulang. Kadang telat transfer uang buat jajan Arkan. Ibu sudah pusing mengurus semua ini.”


Hanna terdiam. Ia mulai merasakan ada sesuatu yang berat akan diucapkan ibunya.

Lihat selengkapnya