Menanti

Wulan Qurotul A'iyun
Chapter #30

Bab 30

Rumah kontrakan itu kecil, tapi terasa hangat. Daffa dan Hanna baru saja selesai membereskan pekerjaan rumah. Arkan asyik bermain dengan mobil-mobilannya di lantai, sesekali tertawa kecil sendiri.


Pintu diketuk pelan. Daffa membukanya dan menemukan Bu Rani berdiri di ambang pintu dengan senyum tipis.


“Ibu! Silakan masuk.”


Bu Rani melangkah masuk, matanya mengamati sekeliling. “Rumahnya kecil, tapi bersih.”


“Iya, Bu.” Jawab Daffa ramah. “Silakan duduk, Bu. Saya ambilkan minum.”


Bu Rani duduk di kursi sederhana yang tersedia. Hanna yang mendengar suara ibunya, segera keluar dari dapur.


“Bu!” Hanna menghampiri, memeluk ibunya erat. “Ibu datang!”


“Iya, Han. Ibu mau lihat rumah kalian.”


Daffa kembali dengan segelas air teh dan sepiring pisang goreng. “Bu, ini teh dan pisang goreng buatan Hanna. Silakan dicoba.”


Bu Rani menerimanya, sedikit terkejut dengan keramahan Daffa. “Terima kasih, Daffa.”


“Sama-sama, Bu. Kalau mau tambah, bilang saja.”


Hanna menatap Daffa dengan mata berbinar. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Ini adalah pertama kalinya Daffa menyambut ibunya dengan begitu hangat tanpa ada ketegangan.



Bu Rani menyesap tehnya, lalu menatap cucunya yang sedang bermain. “Arkan, kemari, duduk sama Nenek.”


Arkan berlari menghampiri neneknya dengan senyum lebar. “Nenek!”


Bu Rani menggendong Arkan, mencium pipinya. “Cucu Nenek makin ganteng”


Hanna duduk di samping ibunya, matanya berkaca-kaca. “Bu, aku senang Ibu datang.”


Lihat selengkapnya