"Kapan bikin acaranya?"
"Kapan anak-anak Jeng Prameswari nyusul?"
"Kapan punya menantunya, Jeng?"
"Kapan Jeng, kapan, kapan?"
Deg!
Hana Prameswari terbangun dari mimpi panjangnya. Mimpi itu lagi. Mimpi di mana orang-orang terlihat begitu semangat mengerubunginya dengan berbagai pertanyaan paling memuakkan dalam hidupnya. Pertanyaan yang tidak jauh-jauh dari topik tentang kapan putri-putrinya akan menikah dan kapan ia akan punya menantu seperti orang-orang lain di luar sana.
Ironisnya, mimpi yang baru saja ia alami itu bukan hanya sekadar bunga tidur belaka. Itu adalah refleksi dari apa yang benar-benar ia alami di kehidupan nyata, bagaimana orang-orang di sekelilingnya memborongi wanita paruh baya itu dengan pertanyaan yang sama setiap bertemu dirinya.
Di usia yang sudah menginjak 65 tahun ini, belum ada satu anak Hana Prameswari yang menikah. Rambut wanita paruh baya itu sudah memutih semua, namun tidak ada satu putrinya yang menunjukkan minat untuk berkeluarga, menjadi istri seseorang.
Bagaimana bisa punya empat anak perempuan namun semuanya tidak ada yang ingin menikah?