Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #1

Bab 1

Bus itu punya 22 kursi yang masih kosong saat si sopir mengarahkan kemudi ke lajur paling kiri, masuk ruas tol Jakarta-Merak, dari arah Kebon Nanas, Cikokol.

Duduk di baris kelima sisi kiri, pemuda bernama lahir Ahmad Komad. Tak dipanggil Ahmad atau Komad, Ahmad Komad lebih dikenal dengan sebutan Komet, lantaran rambutnya yang jabrik seperti ekor bintang. Lagi pun, orang-orang sekitar kerap kali gagal menekan huruf ‘d’ pada namanya. Jadi, Komet terdengar lebih baik, lebih ringkas, lebih jelas.

Sejak menempati kursi itu, tangannya tak lepas menggenggam selembar kertas. Matanya berkedip-kedip, membaca isi surat. Membuang muka keluar kaca sebentar, dia berkedip-kedip lagi membaca surat itu. Begitu terus, seolah-olah tujuan hidupnya hanya berkedip-kedip, membaca, dan melempar pandangan keluar. Baru, saat seorang kondektur datang padanya meminta ongkos, Komet lekas merogoh kantung kemeja birunya yang sudah luntur, mengambil selembar uang lima puluh ribuan, dan mengulurkan pada si Kondektur.

“Ke mana?” tanya si Kondektur. Komet menaksir umur lelaki itu tak beda jauh dengannya. Berbeda dari dirinya, si Kondektur membiarkan bulu halus tumbuh di atas bibir dan dagu.

Komet lekas melempar pandangan dari kertas di tangan. “Saketi.” Komet menyebutkan satu tempat pemberhentian bus yang tertera di sana.

“Tiga puluh.” Dengan lincah si Kondektur mengambil empat lembar lima ribuan, dan menyerahkan pada Komet sebagai uang kembalian.

Komet segera menyambut dan menyimpan kembali uang itu dalam saku kemeja yang selain luntur juga kebesaran. Saat si Kondektur pergi ke penumpang lain, Komet kembali mengarahkan pandangan pada selembar kertas miliknya. Meski tak spesifik menyebut namanya, baik yang asli maupun julukan, dia tahu kepadanyalah surat itu ditujukan. Surat tentang seseorang yang selama 25 tahun ini pergi tak pulang kabar, juga seorang juru kunci agar Ma Siah—neneknya—bisa tetap menginjakkan kaki ke tanah suci.

Sayup-sayup Komet mendengar tawar menawar antara si Kondektur dengan penumpang yang duduk di baris keenam, di sisi kanan bus. Penumpang itu membayar dua puluh lima ribu untuk tujuan yang sama dengannya. Komet sadar, dia penumpang baru. Tak tahu harga, si kondektur mematok suka-suka. Sama dengan kertas dalam genggamannya, Komet merasa surat itu pun datang padanya dengan suka-suka. Bagaimana tidak, tak terhitung hari-hari yang telah dihabiskan Komet untuk mencari tahu di mana orang yang diceritakan dalam surat tersebut, sia-sia, dan kemarin sore surat itu menyodorkan jawaban mudah begitu saja.

Sore itu, dengan membawa sepeda motor, Komet baru tiba dari kediaman pamannya, Jauhari, saat seorang petugas pos berdiri di muka teras rumah Ma Siah. Komet lekas turun dari motor dan menghampiri pria tambun berseragam oranye tersebut.

“Ada apa, Pak?” Komet bertanya.

“Antar surat untuk … Pak Burhan. Dari … Keluarga Adil,” katanya ragu. Lelaki itu kemudian melihat sekali lagi nama si pengirim, lalu berkata dengan lebih mantap, “Benar, Adil.”

Lihat selengkapnya