Selesai salat Subuh Komet sudah memanaskan motor di teras. Minggu sekolah libur, tak ada tugas membuka gerbang. Baru menjelang Magrib nanti, dia akan mengecek sekolah sebentar kemudian kembali ke rumah. Minggu buta digunakan pemuda itu untuk mengantar Ma Siah ke pengajian Ustaz Haikal, yang biasa mengajak muridnya mendengar tausiah seorang ulama di selatan, berjarak 22 km dari kampung mereka.
“Met, lihat balsam Ma?” Ma Siah mengorek-ngorek isi tas.
Komet menggeleng, “Enggak. Di bawah bantal, kali?”
Ma Siah berhenti mengorek-ngorek isi tasnya. Dia berjalan kembali ke bantal yang tergeletak di lantai, tempatnya biasa menonton teve. “Udah, yuk. Berangkat!” Ma Siah menemukan apa yang dicari.
Komet lekas memakai jaket, lalu mendorong motor ke halaman. Ketika sudah siap, Ma Siah naik di boncengan. Motor bebek 110 cc yang knalpotnya bocor itu pun berlalu, memecah sunyi Minggu buta di Kampung Bulakan.
Sementara Ma Siah sudah bergabung dengan teman sepengajian Ustaz Haikal—didominasi ibu-ibu sebaya dengannya—Komet kembali pulang. Tidak, Komet bukan jenis muslim yang taat, yang rela jauh-jauh mendatangi seorang ulama dan mengaji kepadanya. Salat bolong-bolong, mengaji kadang-kadang, mendengar kajian kalau ada teman yang sampar, itulah dia. Ya, Komet sungguh berbeda dengan Ma Siah soal ketaatan pada Tuhan, termasuk mengenai keinginan Ma Siah sebagai muslim untuk bisa melengkapi rukun Islam kelima. Sejak dulu, Komet tahu Ma Siah sangat ingin berhaji. Sementara dirinya, cukup tahu diri dan yakin Tuhan akan memaklumi keadaanya nan jauh dari gelimang uang, yang bisa mengantarkannya menginjakkan kaki di tanah suci.
Menggigil Komet di sengat udara pagi buta. Jarak antar pengajian Ustaz Haikal dan kediaman Ma Siah tidak terlalu jauh. Hanya saja, lantaran motor bututnya tak kuat berlari kencang, ditambah jaket tipisnya tak mampu menangkal angin, Komet harus menahan hawa dingin jauh lebih lama. Belakangan dia sadar, angin bertiup makin menjadi sampai-sampai giginya bergemelatuk. Sungguh, Komet merasa tak seperti saat pergi mengantar Ma Siah tadi. Pemuda itu bersumpah, saat tiba di rumah dia akan menenggak kopi panas!
—
Jauh sebelum berangkat ke selatan menaiki bus untuk bertemu Adil, juga jauh dari hari sibuk Komet dengan angin pagi setelah mengantar Ma Siah Minggu itu, Komet sudah menyaksikan betapa Ma Siah ingin sekali datang memenuhi panggilan berhaji. Anak-anak dari perempuan paruh baya itu pun tahu betapa orang tua mereka ingin menunaikan rukun Islam kelima. Namun, semua juga tahu sulit baginya untuk bisa datang ke Saudi. Status Ma Siah sebagai janda pensiunan PNS dari golongan rendah tak bisa mengubah hidupnya. Berkali-kali dari sejak Burhan—suaminya— masih hidup, SK kepegawaian laki-nya itu keluar masuk bank sebagai jaminan utang untuk merenovasi rumah dan mengawinkan anak-anak mereka. Sementara hasil berjualan nasi uduk tiap pagi tak seberapa, sebab Ma Siah yang dikenal murah hati tak akan tega pada siapa saja yang kurang uang dan ingin sarapan pagi.
“Gimana bisa untung kalau tiap ada yang kurang uang enggak pernah ditagih?” Mamah, bungsunya selalu menggerutu tiap kali Ma Siah berbuat baik pada pembeli nasi uduknya.
“Gapapa, orang pengin makan kok, dilarang.” Begitu Ma Siah selalu membalas.
Alhasil, Mamah selalu menaruh piring terlampau keras ke dalam bak cuci. Kesal bukan main. “Katanya pengin naik haji. Kapan kumpulnya kalau begini terus?”
“Eh, eh, eh ….” Ma Siah balas mengomel. “Sedekah juga penting. Lagian kalau gilirannya sudah ada, Ma bakal kepanggil juga.”