Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #3

Bab 3

Saat dua tamunya sudah masuk Kijang Rover zamrud metalik yang terparkir di halaman, Ma Siah tergopoh menghampiri Jauhari. “Gimana?”

Sambil menyaksikan mobil itu beranjak dari rumah Ma Siah, lelaki itu menggeleng. “Enggak mau,” katanya.

Ma Siah kembali lemas. Dia sudah tak mau lagi menghitung yang baru saja pergi itu, orang keberapa yang menawar tanahnya. Orang datang menawar banyak, tapi saat tiba bicara dengan menantunya perihal status tanah yang akan dijual tak bersertifikat resmi, semuanya batal. Padahal, seorang tetangga menjual sebidang tanahnya hanya bermodal bukti kepemilikan tanah secara adat saja, laku terjual. Tak hanya itu, orang tuanya diberangkatkan umrah.

“Ini gara-gara Bang Adil! Coba saja dia ada, terus ngomong di mana dia simpan sertifikatnya, bakal beres urusan,” Jamilah menggerutu. Dia mengambil gelas-gelas kopi yang sudah tandas lalu menyerahkan pada Mamah untuk dibawa ke belakang.

Sementara Ma Siah duduk di kursi bambu, di sebelah Jauhari.

“Coba dia enggak kawin lagi. Urus bini, anak yang bener. Semua enggak repot. Orang tua, saudara, adem ayem.” Sambil duduk Jamilah terus berbicara. Emosinya naik, lantaran usaha menjual tanah orang tuanya selalu saja gagal di tengah jalan.

Ma Siah melirik perempuan yang berdiri di ambang pintu. Lastri, menantunya. Entah, Ma Siah merasa ucapan Jamilah akan mengusik perempuan itu. Memang, tiap kali urusan jual beli tanah ini gagal, nama Adil selalu jadi bulan-bulanan. Meski tak pernah sekali pun menanggapi, Ma Siah mafhum kalau Lastrilah orang yang paling terluka saat nama suaminya itu disebut-sebut sebagai dalang raibnya sertifikat.

“Menantu Ma, nih, yang ke sana-kemari cari berita ke mana anak Ma itu pergi. Sudah datang ke Koh I Ping juga. Tapi memang sudah enggak ada sertifikatnya di sana, dibawa Bang Adil, enggak tahu digadai ke mana? Ke bank, kali. Buat biayain bini muda.”

“Sudah, Jamilah.” Sebelum anak keduanya itu kembali bicara, Ma Siah sudah menyelak. “Memang kayaknya Bapak juga belum mau tanahnya dijual,” katanya melanjutkan.

“Masa iya orang yang sudah di kuburan masih ikut-ikut ngurusin tanah?” Dari dalam rumah, Mamah ikut menyahut, “Ini memang lakunya Bang Adil yang durhaka sama orang tua, sama bini, sama anak, sama saudara, sama semua-semuanya. Enggak mampu adil sok kawin lagi, enggak punya duit malah hamilin anak orang. Sertifikat tanah orang tua digadai, bukannya ditebus terus balikin, malah dibawa kabur. Kalau bukan Abang sendiri, mendingan dilaporin polisi saja!”

Lagi, Ma Siah diam. Dilihatnya Lastri, menantunya itu makin merunduk. “Sudah-sudah. Ma enggak mau kalau cuma urusan tanah pada ribut-ribut begini. Biar saja itu surat tanah dibawa. Mau liat setega apa Adil sama orang tua kalau nanti ada yang datang terus gusur Ma dari sini.”

Semua diam. Itu kali pertama perempuan yang dikenal bersahaja tersebut meninggi ucapannya setelah sekian lama. Sampai-sampai Komet yang datang pada ibunya hendak meminta uang jajan pun ikut berhenti. Komet melirik sekitar. Meski tak terlalu paham, dia sudah bisa menebak kenapa Nenek, Bibi, Paman dan ibunya berkumpul di beranda rumah dengan muka masam. Dia sering melihat situasi yang seperti itu di waktu-waktu sebelumnya. Komet tahu rumah Ma Siah akan dijual, tapi berkali-kali tidak jadi karena satu hal yang tak dia bisa pahami. Dia hanya sering mencuri dengar bahwa sertifikat tanahlah biang keladi atas seringnya muka-muka di hadapannya mendadak masam. Untuk kali ini, anak yang belum genap sebelas tahun itu hanya lebih bingung, mengapa Ma Siah menyebut nama ayahnya dengan nada tak seperti biasanya. Belum pernah sebelumnya dia mendengar nada seperti itu keluar dari mulut neneknya, bahkan untuk kenakalannya menjual kompor Ma Siah yang masih menyala ke tukang loak.

Sekali lagi, Komet melirik Ma Siah. Mata perempuan itu berkaca-kaca. Komet menaksir, sekali saja neneknya berkedip, air matanya akan tumpah. Dan jika itu terjadi, untuk pertama kalinya jugalah Ma Siah menangis setelah sekian lama. Komet hanya ingat tangis Ma Siah pernah pecah saat kakeknya, Burhan, meninggal empat tahun lalu, saat usianya masih tujuh.

Komet mengguyur tubuhnya dengan air sumur. Setelah setengah jam duduk di beranda dengan segelas kopi, dia memutuskan mandi. Dia gusar pagi itu, padahal orang yang akan ditemuinya siang ini termasuk orang terdekat, keluarganya. Entah mengapa perasaan itu tak mampu dilenyapkan begitu saja. Jika dihitung pun sampai jam pertemuan, masih lima sampai enam jam lagi. Masih banyak waktu.

Usai mandi, Komet mengambil nasi sisa kemarin, lalu diberinya makan ayam-ayam Ma Siah. Jumlah ayam itu empat ekor, satu pejantan dan tiga lainnya betina. Kemarin, baru saja seekor betina bertelur. Jika ada banyak telur di dapur, telur-telur si betina dibiarkan sampai menetas. Sayangnya, telur di dapur sedang kosong, maka malanglah induk ayam itu. Mungkin, usai mengaji, Ma Siah akan merampasnya.

Kampung Bulakan sudah mulai bergeliat. Motor sesekali melintas; suara sapu menyiak halaman; tak tertinggal musik dangdut berkumandang, beradu dengan suara bayi bangun tidur serta motor yang sedang dipanaskan. Sambil memperhatikan ayam-ayam Ma Siah mematuk-matuk nampan berisi nasi sisa kemarin, Komet berandai-andai, jika saja menjual tanah tak bersertifikat bisa semudah menjual ayam.

 Jika diingat-ingat memang sulit sekali untuk Ma Siah bisa menjual tanahnya sendiri. Satu waktu bahkan dia diajak Ma Siah mendatangi seorang kerabat yang kebetulan baru saja resmi menjabat sebagai anggota dewan tingkat kabupaten/kota. Gunawan namanya. Ma Siah bilang, lelaki seumur dengan Jauhari itu keponakan dari suaminya.

Komet ingat, saat datang, mereka harus menunggu si pejabat bangun dari tidur. Menurut istrinya, Gunawan kelelahan karena harus berdiri seharian menerima jabat tangan para pendukung. Keduanya menunggu di ruang tamu yang luas, berisi keramik-keramik besar yang mentereng selaras dengan kursi yang mereka duduki. Hampir satu jam menunggu, si pejabat baru keluar kamar.

Gunawan menyalaminya dan dengan tulus mengucapkan terima kasih atas dukungan keluarga pada pencalonannya. “Ya, syukur. Suara keluarga bisa menopang saya, Ma. Kan, kalau bukan keluarga siapa lagi yang mau bantu? Insya Allah, amanah ini saya akan jaga,” katanya membuka percakapan.

Lihat selengkapnya