Komet dibangunkan riuh pedagang asongan yang naik ke dalam bus. Penjual minuman, rokok, permen, tisu, asinan, buah, mainan, tasbih, buku cerita anak-anak, kitab dan doa-doa, berjejal menawarkan dagangannya bergantian. Sungguh ini hal baru buat Komet. Dia memang sering mengantar Ma Siah ke terminal kecamatan. Barang tentu terminalnya tak sebesar ini, tanpa bus gembrot juga penjual cerita anak-anak, buku doa, dan kitab-kitab yang ikut merangsek dalam rongga mobil.
“Minum, A?” Seorang pedagang minuman beraneka rupa menyodorkan dagangannya pada Komet. “Dingin ada, hangat ada, anyep ada. Semua ada,” tambahnya.
Komet menggeleng, dalam ranselnya masih ada botol air mineral yang isinya masih setengah.
Setelah tawarannya ditolak Komet, pedagang itu langsung berjalan ke penumpang lain di belakang.
Di ujung antrean para pedagang, seseorang membagikan amplop putih bertuliskan nama sebuah yayasan sosial. Dia memperkenalkan diri sebagai pengurus dan meminta bantuan dari para dermawan dalam bus untuk mengisi amplop-amplop putih yang dia bagikan guna menghidupi orang-orang yang tinggal di yayasan sosial tersebut.
Komet ingat perkataan Ma Siah untuk selalu bersedekah jika ada kesempatan dan ada uang. Dia kemudian menyelipkan selembar uang lima ribuan ke dalam amplop. Kini, uang lima ribuan di kantung kemeja kebesarannya hanya sisa tiga lembar.
Di bagian depan bus seorang pengamen cilik mencangking ukulele penuh dengan stiker, tubuh mungilnya tertutup beberapa pedagang yang ikut merangsek dalam bus. Sambil memetik senar, bocah itu berkhotbah, tentang pentingnya memberi bantuan kepada sesama manusia, terutama pada dirinya yang sejak kecil hidup di jalanan. “Daripada saya mengemis di jalan, lebih baik mengamen di sini ya, Bu, Pak, Mas, Mbak, Kakak. Suara saya tak sebagus Rhoma Irama, tapi semoga Ibu, Bapak, Mas, Mbak, Kakak, terhibur,” katanya sebelum mulai bernyanyi.
Bocah itu menyanyikan lagu Ayah gubahan Rinto Harahap dengan suara melengking. Musik dan suaranya tak padu. Komet kini mengerti, apa maksud si bocah tentang suaranya yang tak sebagus Rhoma Irama. Selesai menyanyi, pengamen cilik itu menghampiri kursi-kursi penumpang sambil menodong dengan bungkus permen. Komet memberinya uang.
Sungguh, Komet mengapresiasi kejujuran si bocah. Yang paling penting, lagu yang dibawakannya selaras dengan apa yang selama ini Komet lakukan, mencari Adil, ayahnya. Kini di saku kemeja kebesaran Komet hanya ada dua lembar uang lima ribuan dan surat yang berisi tujuannya.
Bersama berlalunya si pengamen cilik, seorang lelaki duduk di kursi kosong sebelah Komet. Komet sedikit melirik, pria itu seusia pamannya, Jauhari. Kaca mata hitamnya besar, kemeja merahnya tak kalah luntur dengan yang dipakai Komet. Pemuda itu meringis, sungguh, adil sekali bus ini kepadanya. Jika boleh, Komet ingin segera menamai baris kelima sisi kiri bus dengan sebutan kursi luntur. Lekas, Komet melempar pandangan ke luar. Langit mendung.
Setengah jam tertahan di terminal, bus itu mulai bergerak bersamaan rintik hujan yang mulai turun. Komet memperhatikan bagaimana bulir-bulir hujan pecah di jendela, kemudian meluncur ke badan bus. Jika sedang berada di rumah dan turun hujan, biasanya dia dan ibunya sibuk menata ember dan baskom untuk menampung air yang menyelinap dari genting koyak rumah Ma Siah. Setelah itu, Komet akan bersiaga, kalau-kalau hujan turun disertai angin kencang. Karena biasanya jika itu terjadi, genting akan merosot. Kalau sudah begitu, maka beraksilah dia membetulkan posisi genting dari dalam rumah, ibunya akan memandu dari bawah. Belakangan, setelah Lastri wafat, tugas-tugas itu dikerjakannya seorang.
Komet sedang membayangkan, jika hujan turun juga di Kampung Bulakan, Ma Siah mungkin saat ini sedang sibuk menata baskom dan ember. Terlalu banyak lubang di atap mereka. Doa Komet dari dalam bus, semoga neneknya itu tak terpeleset.