Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #5

Bab 5

“Kalau sudah bekerja dan punya uang banyak, Komet yang bakal daftarin Ma Siah haji.” Komet pernah berkata untuk bisa mewujudkan mimpi naik haji Ma Siah di hadapan mendiang ibunya. Saat itu, kembali mereka melepas kepergian seorang calon pembeli. Padahal orang itu sudah sangat meyakinkan dengan membawa pengacara untuk mencari tahu di mana surat tanah Ma Siah berada, dan lekas mengurusnya. Tak pulang dengan surat, mereka datang untuk membatalkan jual-beli, tanpa penjelasan apa-apa.

Lastri mengusap bahu Komet. “Amin,” dia berkata.

Lulus SMA Komet tak melanjutkan kuliah. Selain tak ada biaya, Komet merasa harus langsung menuju tujuannya: lekas mencari uang, guna memberi peluang lain Ma Siah bisa berhaji, lewat dirinya. Maka dibuatnya surat lamaran kerja banyak-banyak, disebarnya ke perusahaan-perusahaan yang sejak bangku sekolah dia incar. Beberapa menolak berkasnya lantaran tak ada lowongan di perusahaan mereka, beberapa lagi mengambil surat lamarannya.

Menunggu menjadi hal yang paling menegangkan. Harap dilambungkan Komet tinggi-tinggi. Malang, sampai beberapa bulan berlalu, tak ada perusahaan yang menghubunginya. Dari sana dia tahu, bahwa mencari pekerjaan tak semudah bayangannya.

Satu malam, saat pulang membeli obat nyamuk, seseorang memanggilnya dari pos ronda. Hambali, ketua RT. “Iya, Bang?” Komet menghampiri.

“Sini,” katanya menyuruh Komet duduk. Tidak ada siapa-siapa di pos ronda selain lelaki itu. “Sudah dapat kerja?” Hambali bertanya kemudian.

Komet menggeleng, “Belum, Bang.”

“Begini, kamu tahu, kan, kalau anak Abang, si Haikal kerja di bandara? Gajinya lumayan. Nah, dia temen Abang yang masukkin,” katanya. Hambali menggaruk perut tambunnya, barangkali gatal. “Ya, memang perlu ongkos. Cuma nanti bisa balik lagi kalau sudah gajian.”

Komet menelan ludah. Bekerja di bandara adalah agama para pencari kerja di kampungnya. Dari yang dia sudah tahu, untuk bisa bekerja di sana, perlu orang dalam. Banyak orang rela membayar agar bisa bekerja, bahkan hanya untuk jadi tukang bersih-bersih.

Berhaji dan bandara tentu satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, Komet mengerti itu. Tapi, dia juga tahu diri. Dari mana dirinya bisa dapat uang untuk membayar upah orang dalam?

“Abang cuma kasih tahu saja, Met. Siapa tahu butuh. Banyak yang antre buat bisa kerja di sana. Dijamin langsung dapet, kalo temen Abang yang ajak. Lihat saja Haikal, tiga bulan kerja sudah bisa kredit motor. Gimana enggak enak, iya enggak?” Lagi, Hambali menceritakan kesuksesan bungsunya yang bekerja jadi pengangkut koper di bandara.

“Nanti ditanya Ibu dulu, Bang. Soalnya ada ongkosnya, ya? Jadi liat dulu, ada uangnya atau enggak.”

“Tapi jangan lama-lama, ya? Banyak yang antre. Abang kasihan saja, katanya kamu sudah keliling cari kerja, belum keterima juga.”

Komet meringis mendengar itu. Dia lekas berpamitan.

Menjelang malam Komet berbicara tawaran itu pada ibunya. “Gimana bisa, cari uang harus pakai uang?” Komet tertawa geli.

“Atau pinjam saja dulu?” Lastri mencetuskan ide.

Lihat selengkapnya