Tak bekerja di bandara, Komet berlabuh di sebuah pabrik plastik di kawasan industri tak jauh dari Kampung Bulakan—hanya belasan kilo jika dihitung jaraknya. Sebenarnya ini jelas bukan jenis pabrik incaran Komet. Dia tahu betul, ratusan pabrik berdiri, tak sampai seperempatnya yang memberi upah layak. Mencari upah layak di sini adalah hal sulit, barangkali inilah jarum dalam jerami sesungguhnya. Mereka yang bekerja tersandera kebutuhan untuk bisa tetap makan, bayar cicilan, dan bayar kontrakan.
Komet termasuk yang beruntung dibayar setengah lebih sedikit dari upah minimum yang diatur pemerintah. Karena lebih banyak mereka yang dibayar suka-suka, tanpa jaminan kesehatan, tanpa jaminan kecelakaan, dan mohon untuk tidak bertanya soal jaminan hari tua, mereka akan sedih—beberapa bahkan tak tahu ada jaminan seperti itu.
Hanya dua tahun Komet bekerja sebagai staf administrasi di pabrik plastik. Kebakaran hebat melanda tempatnya bekerja. Siang bolong, saat jam kerja kembali bergulir belasan menit, sirine mengaum dan orang-orang di sekitarnya berlarian. Komet bengong cukup lama, sampai akhirnya menyadari kalau situasi itu adalah situasi gawat. Lekas dia berlari ke belakang pabrik, karena bagian depan sudah dikepung api. Beruntung, banyak warga sekitar yang ikut membantu evakuasi. Komet memanjat tembok pabrik berbekal uluran kain panjang warga yang disambung-sambung.
Jika mengingat hari itu darahnya berdesir, pikirannya menerawang pada satu sosok. Imam.
—
Dua tahun itu bukan waktu yang buruk-buruk amat, meski gajinya jauh dari layak. Komet duduk di meja kecil dekat pintu gudang, bertugas mencatat keluar-masuk bahan baku plastik, kadang membantu bagian keuangan menghitung slip gaji buruh harian yang jumlahnya puluhan orang.
Di sanalah Komet berkenalan dengan Imam, lelaki asal Tanjung Garam di utara, yang bekerja di bagian produksi. Mereka mula-mula hanya saling sapa di kantin—kantin sederhana beratap seng, meja panjang dari kayu yang beberapa sisinya sudah lapuk dimakan rayap. Imam selalu duduk di ujung meja yang sama, dekat kipas angin tua yang berputar pelan, seolah itu sudah jadi haknya karena datang paling awal tiap istirahat.
"Sok, Met, gabung sini. Angin paling kenceng emang di sini," katanya suatu siang, menggeser sedikit tempat duduknya.
Komet mengangguk, membawa nasi bungkusnya, duduk di sebelah Imam.
Obrolan mereka awalnya hanya sekadar basa-basi pekerjaan, tapi belakangan melebar ke cerita keluarga. Imam bilang, sebenarnya keluarganya turun-temurun nelayan. Bapaknya, kakeknya, semua melaut. Dulu waktu masih kecil, Imam sering ikut bapaknya ke laut tiap akhir pekan atau libur tanggal merah. Kemudian sejak itu dia bertekad kelak akan jadi nelayan juga, punya perahu sendiri, tak perlu jauh-jauh kerja ke kawasan industri seperti sekarang.
"Cuma sekarang beda, Met. Laut Tanjung Garam udah ditutup buat proyek reklamasi. Nelayan kayak Bapak harus muter jauh, kadang sampe dua kali lipat jaraknya dari dulu," ceritanya, sambil mengunyah kerupuk yang selalu dia bawa dari rumah. “Solar abis lebih banyak, tangkapan malah kadang enggak nutup ongkos."
"Terus kenapa Bang Imam malah kerja di sini, bukan bantu di laut?"
Lelaki bermata bundar itu tertawa kecil, tawa yang tak sepenuhnya lepas. "Perahu Bapak udah tua, Met. Sering bocor, sering turun mesin. Kalau cuma ngarep hasil laut yang sekarang susah, enggak akan kebeli sparepart. Makanya gua kerja di sini, gajinya emang enggak seberapa, tapi lumayan buat nyicil benerin perahu. Nah, kalau udah bener, baru gua balik ke laut. Itu maunya gua."