Kali pertama Komet memutuskan untuk mencari Adil, dirinya bingung dari mana bisa mulai. Sejauh ini, tak ada jejak Adil yang dapat diendus. Jamilah sering bilang, kalau suaminya acapkali pergi mencari Adil. Hanya saja, pencarian itu berakhir buntu. Belasan tahun berlalu, tak ada yang tahu di mana lelaki itu berada, pun bagaimana kabarnya.
Jika ada anak yang tak kenal baik siapa ayahnya, maka Komet seorang di antaranya. Dia hanya tahu Adil dari cerita-cerita sepenggal Ibu dan neneknya. Rupa Adil bisa dilihat lewat potongan-potongan gambar dalam album foto, terutama saat lelaki itu berkemeja putih, bersanding dengan Lastri yang memakai kebaya senada di hadapan seorang penghulu. Tak ada foto dirinya bersama Adil. Namun, Komet dapat menyadari kalau rupa Adil berbeda dengannya. Langsat kulit, bangir hidung, lancip dagu, serta jatuh rambutnya jelas tidak sama dengan kepunyaannya. Satu-satunya yang barangkali identik antara Komet dan Adil hanya tinggi keduanya yang serupa. Siapa pun sepakat, Komet lebih mirip Lastri.
Ingin rasanya Komet dapat gambaran sang Ayah dari sudut pandang Paman dan bibinya. Sayangnya, bahasan masa lalu Adil lewat pembicaraan mereka selalu buntu pada satu persoalan paling krusial di keluarga ini: surat tanah. Maka mundur Komet yang ingin tahu bagaimana ayahnya dulu.
Satu hari Komet bertanya pada mendiang ibunya, bagaimana perempuan itu bisa bertemu Adil? Tentu Komet sering mendengar, kalau ibunya yatim piatu, berasal dari Selatan, diajak bekerja oleh Mama Fatimah, tetangga mereka. “Tapi, Komet pengin dengar yang jauh lebih lengkap, Bu,” katanya saat itu.
Sambil menggosok pakaian milik keluarga Mama Fatimah yang dikulikan padanya, meluncurlah cerita masa lalu itu dari mulut Lastri.
―
Lastri dua bersaudara. Yatim sejak usia tujuh tahun, bersama ibu dan adiknya perempuan itu hidup sulit. Selesai sekolah tingkat dasar, Lastri tak ingin melanjutkan sekolah. Dia ikut keluarga dari keluarganya, berpindah-pindah, bekerja sebagai pengasuh atau tukang cuci pakaian. Apa saja dia lakukan semata-mata agar bisa mengirim uang pada Ibu, supaya adiknya bisa tetap bersekolah.
Terakhir dia berada di Kebayoran, bekerja di rumah famili saat dapat kabar ibunya jatuh sakit. Lastri pulang, dan harus menerima ibunya meninggal lima jam setelah dia datang. Sejak itu Lastri berhenti bekerja, dia memutuskan untuk tinggal bersama adiknya yang belum lulus sekolah dasar. Tapi, belakangan Lastri sadar, kalau untuk bertahan hidup dia perlu uang. Maka di satu malam dia berbicara kelewat serius pada adiknya di ruang tengah yang lengang tanpa perabot. Dua anak perempuan itu duduk bersila di atas tikar.
“Teteh harus kerja,” katanya. “Santi harus tetap sekolah.”
Adiknya bergeming. Santi tentu tahu, mereka kini tidak punya siapa-siapa lagi untuk dijadikan tempat meminta. Tentu ada paman dan bibi yang tinggal di sekitar, tapi Santi pun tahu kalau mereka sama susahnya. Santi tak ingin bertumpu beban pada Lastri seorang. “Lulus sekolah Santi ikut Teteh kerja.”
Lekas, Lastri menggeleng. “Kamu harus tetap bersekolah. Teteh bilang ke Bibi kalau kamu tetap tinggal di sini buat terus sekolah. Teteh nanti bakal kirim uang, buat kamu makan, buat sekolah. Bibi yang bantu atur.”
“Tapi, Teh—”
“Santi jangan khawatir, Teteh bakal berusaha terus,” Lastri berkata sebelum Santi menuntaskan kalimatnya. Tak sampai di sana, perempuan itu lekas memeluk adiknya erat. Masuk lewat celah bilik bambu rumah itu, angin ikut memeluk keduanya.
Tidak kembali ke Kebayoran, Lastri diboyong Mama Fatimah ke rumahnya. Saat itu Mama Fatimah berkunjung ke kediaman bibinya yang tinggal persis di sebelah rumah keluarga Lastri. Dari bibinya juga perempuan itu tahu kalau Lastri yatim piatu dan sedang butuh pekerjaan. Lantaran di rumah repot mengurus empat anak yang masih kecil, Mama Fatimah mengambil Lastri untuk membantunya di rumah. Lastri tentu tak menolak, maka berangkatlah dia ke Utara.
Di rumah Mama Fatimah, Lastri disambut baik. Keempat anak Mama Fatimah luluh dalam asuhannya. Tak hanya mengasuh, Lastri juga membantu memasak, mencuci hingga membersihkan pakaian. Malam menjelang, Lastri ikut mengaji di masjid. Belakangan, dia bahkan jadi pengurus remaja masjid. Di sana juga Lastri kemudian bertemu Saipul, pemuda yang akrab dipanggil Ipul. Lelaki itu terang-terangan mengatakan kalau dirinya menyukai Lastri. Dia bilang, “Kalau boleh, saya akan mengambil Lastri jadi istri.”
Lastri terdiam. Dari banyak cerita anggota remaja masjid lain, dia tahu kalau lelaki itu senasib dengannya; yatim piatu, bahkan mulai umur dua tahun. Sejak kecil Ipul bekerja jadi juru pikul di pelelangan ikan. Agak besar, dia bekerja untuk seorang penambak udang sebagai penjaga tambak. Dari semua hal itu, yang paling membuat Lastri berkali-kali menelan ludah tiap Ipul berkata kalau lelaki itu menyukainya adalah kenyataan bahwa, hidup Ipul sama nelangsa dengannya. Nelangsa ditambah nelangsa, sama dengan sengsara, pikirnya.
Satu peringatan maulid Nabi yang digelar di halaman masjid Kampung Bulakan, orang-orang berkumpul ingin mendengarkan tausiah. Bukan ustaz Haikal seorang yang mereka tunggu, tapi ulama yang memakai nama panggung satu tokoh pewayangan Sunda. Kiai itu dikenal lucu dalam menyampaikan tausiah, bahkan seringkali yang mendengar kajiannya lupa kalau mereka sedang mendengar kajian, saking lucunya. Lastri ada di pinggir panggung, membantu menyiapkan konsumsi bersama panitia lain, saat ulama yang ditunggu itu datang disambut dengan pukulan rabana dan lantunan selawat. Salah seorang panitia lelaki menghampiri Lastri, meminta suguhan lekas diberikan pada Kiai dan rombongan. Lastri mengerti, dengan sigap dia memberikan apa yang diminta kawan sesama panitia itu.
Istirahat sebentar, Kiai naik mimbar, mulai ceramah.
Dari tempatnya berdiri, Lastri bisa melihat dengan jelas saat Kiai mulai tausiah. Tak sekali ini saja sebenarnya perempuan itu mendengar ceramah Kiai, Lastri mendengar tausiahnya pernah beberapa kali. Malam itu berbeda, Lastri menjadi bagian panitia yang mengundang ulama tersebut. Bangga bukan main dia.
Kalimat demi kalimat bergulir, orang-orang yang hadir tertawa, terbahak, berguncang-guncang tubuh mereka saat mendengar ceramah Kiai yang lucu. Lastri bisa paham mengapa orang-orang menjuluki kiai itu dengan nama satu tokoh wayang Sunda. Wajah serta karakter Kiai yang jenaka memang mirip sekali dengan si tokoh termaksud.
Di sisi kiri mimbar, adalah Ipul yang tertawanya paling kencang, di tengah keriuhan. Lastri bisa mengenali suara itu, dan di sana pula dia bisa melihat Adil ikut serta dalam kajian. Biasanya, pemuda itu akan menghindari kegiatan seperti ini. Tiga tahun tinggal di Kampung Bulakan, Lastri kenal betul siapa Adil. Bukan apa-apa, rumah orang tua lelaki itu bersebelahan dengan rumah Mama Fatimah, dan tentu saja Lastri akrab dengan Ma Siah, ibu Adil.
Lebih dari satu jam Kiai berceramah, ditutup dengan doa, peringatan maulid itu berakhir. Orang-orang membubarkan diri dengan tertib, sementara Lastri dan panitia lain harus berbenah sebelum pulang.