Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #8

Bab 8

Kala tiba di rumah, Adil menjadi bulan-bulanan Ma Siah. Tak diberi sekalimat pun Adil untuk membela diri. Ibunya murka. Belum pernah dia mendapati Ma Siah semarah itu. Burhan sebenarnya sudah mengingatkan istrinya untuk bisa bersikap tenang. Tentu lelaki itu peduli dengan harkat martabat keluarganya. Selama ini tak pernah cacat keluarga Burhan di mata tetangga. Tentu, dia kesal bukan main dengan apa yang diperbuat Adil pada perempuan bernama Emay itu. Tapi, dia ingin ini tetap jadi pembicaraan keluarga saja.

“Biar saja dia malu. Biar semua orang tahu kalau anak kurang ajar ini sudah bikin malu orang tua. Keterlaluan kamu, Adil. Apa yang ada di otakmu sebenarnya, hah? Kamu punya istri, Adil. Anakmu masih kecil. Durhaka kamu sama istri, sama anak, sama orang tua.” Ma Siah meracau sambil memukuli sulungnya itu.

Adil bergeming, membiarkan badannya jadi sasaran Ma Siah. Sementara Lastri berdiri tergugu-gugu beberapa jarak dari ketiganya—Komet sudah dibawa Mamah ke dapur. Dia sama sekali tidak mengerti bagaimana harus bersikap di situasi seperti ini. Betul, dia sangat marah. Amat sangat marah. Lalu apa? Bahkan Ma Siah sudah menumpahkan serapah yang barangkali lebih daripada apa yang ingin dia katakan pada Adil.

“Sudah. Sudah dulu, Siah. Kita perlu dengar penjelasan Adil,” Burhan mencoba menenangkan istrinya.

Ma Siah menggeleng. “Kalau dia enggak ngehamilin perempuan itu, dia pasti ngelak,” ucap Ma Siah.

“Jadi betul, Adil?” Burhan menodong langsung anak lelakinya.

Ruangan itu mendadak lengang, menunggu jawaban Adil yang barang tentu sudah dapat ditebak. Burhan menunggu, meminta jawab; Lastri meremas dasternya; Ma Siah melotot.

Adil merunduk seraya berkata, “Maafin saya, Pak.”

Burhan membuang wajah, kecewa; Lastri melepas lemah dasternya; Ma Siah melempar telapak tangannya keras-keras ke wajah Adil.

“Angkat kaki dari rumah ini!” Usir Ma Siah, sebelum suara tamparannya habis ditelan udara.

Tak ada yang angkat bicara, apalagi menentang ucapan Ma Siah.

“Lastri,” gemetar suara Ma Siah menyebut nama menantunya. “Kamu sudah seperti anak Ma, jadi tetap di sini, besarkan Komet. Sekali lagi, atas nama keluarga, Ma minta maaf.”

Lihat selengkapnya