Tak pernah terpikir dalam benak Lastri kalau suaminya akan menikahi perempuan lain, sementara dirinya masih menjadi istri sah lelaki tersebut. Adil harus bertanggung jawab atas perbuatannya, begitu pada akhirnya dia harus rela—meski rasanya tiap kali dipikir pun tak pernah ada rela menyelinap dalam hatinya. Sesak hati Lastri ketika Adil mengusap kepalanya sembari mengucapkan kata maaf. Terhimpit-himpit perasaan Lastri saat akhirnya dilepas lelaki itu pergi bersama ayah mertua dan Jauhari untuk mengucap janji yang sama seperti kepadanya dua setengah tahun lalu.
Adil berlalu, giliran Ma Siah yang tergugu-gugu. Perempuan itu menangis, segera Jamilah menenangkan-nya. Terbata, perempuan itu mengucap sesal mewakili si sulung. Tak pernah habis permintaan maaf itu dilapal Ma Siah. Sering, justru Lastri yang menenangkannya. “Enggak pernah keluarga ini mengajarinya ingkar apalagi berzina, Lastri. Ma minta maaf betul-betul,” perempuan itu terisak untuk kesekian kalinya. “Ya Allah, ampuni hamba.”
“Sudah, Ma. Sudah.” Jamilah mengusap punggung ibunya.
Lastri termangu, air matanya mengembang, namun enggan jatuh. Baru, saat Komet berlari menubruknya, air mata itu mencelat setetes. Didekapnya Komet erat-erat, makin merembes air itu.
―
Diapit Burhan dan Jauhari, malam itu Adil mendatangi rumah kontrakan Emay di dekat terminal tempatnya bekerja. Lelaki itu menelan ludah manakala kakinya melangkah di halaman gedung KUA. Tidak, dia tidak akan menikahi Emay di gedung itu. Sudah dilakukannya hal tersebut saat menikahi Lastri, dulu. Kini, tempatnya mengucap ijab Kabul ada di belakang gedung itu. Ya, kontrakan Emay ada di belakang KUA. Adil terus berjalan, masuk gang yang menganga antara Gedung MUI dan KUA. Burhan dan Jauhari mengikuti dari belakang.
Saat tiba di tempat tujuan, ketiganya disambut sunyi. Beberapa orang yang memperkenalkan diri sebagai paman dan bibi Emay mempersilakan masuk. Di dalam, ada seorang perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai ibu Emay ikut menyambut, dan mempersilakan duduk. Tak ada obrolan apa pun selain basa-basi mempersilakan menyantap hidangan yang sudah tersedia. Burhan barangkali mengerti, kalau keluarga mempelai perempuan pun tahu situasinya seperti apa. Jadi, diam menunggu amil datang adalah satu-satunya hal yang mereka lakukan.
Ketika amil datang didampingi ketua RT setempat, segalanya berjalan cepat saja. Di hadapan amil, Adil kembali mengucap janji untuk kedua kali. Sekali ucap, lancar akadnya. Kemudian datang Emay yang perutnya melendung, mencium punggung tangannya: kini resmi perempuan itu jadi istri kedua Adil.
“Saya mohon ampun, Pak. Semuanya jadi seperti ini.” Satu kesempatan, saat mengantar Burhan keluar dari rumah kontrakan, ibu Emay berkata.
Burhan mengangguk. “Istrinya mungkin bisa terima, tapi ibunya, istri saya, masih butuh waktu,” balas Burhan. Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya gusar.