Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #10

Bab 10

Komet mematung di depan cermin. Sekali lagi dia memastikan setelan kemeja yang dikenakannya sudah rapi. Kemeja gading adalah satu dari dua kemeja kepunyaan Komet yang lunturnya tak berlebih-lebihan, pantaslah kalau dua hari belakangan kemeja itu ikut menemaninya dalam misi pencarian Adil. Sedetik, Komet merasa penampilannya terlalu formil. Orang yang akan ditemuinya hanya Jauhari, pamannya, keluarga. Cukup sering dia bertandang ke kediaman Jauhari, terutama saat tiba gula darah Ma Siah naik, Komet selalu membawanya ke dokter yang tempat praktiknya tidak jauh dari rumah Jauhari. Tentu kedatangannya kali ini bukan untuk mengantar neneknya berobat, pencarian Komet bermuara padanya. Kedua tangan pemuda jabrik itu menjangkau kancing kemejanya, hendak melepas. Tapi, niatan itu lekas urung. Komet buru-buru keluar kamar.

Ma Siah belum pulang dari mengaji ke Selatan. Komet tak akan menunggu dan menjemputnya, karena memang biasanya Ma Siah akan jalan pulang bersama teman-teman sepengajian Ustaz Haikal. Sebelum pergi bertandang ke kediaman pamannya, Komet sudah memastikan keadaan rumah rapi: tak ada piring kotor, lantai sudah mengilap, dan tentu saja empat ayam kepunyaan Ma Siah sudah kenyang perutnya.

Komet menekan anak kunci, sekali putar, daun pintu itu terkunci. Komet lekas menaruh anak kunci itu di sela-sela lubang angin semana biasa. Dua kali engkol, motornya menyala. Tanpa melihat lagi ke belakang, Komet pergi.

Komet tiba di pos jaga tempat ayahnya dulu bekerja, dua hari lalu. Pos itu berjarak lima ratus meter dari pintu masuk terminal. Sayangnya pos bangunan berbentuk kotak itu sudah ambruk. Dia lekas bertanya pada orang sekitar, dan salah satunya mengatakan kalau sekarang pos jaga ada di terminal. Setelah mengucap terima kasih, Komet meluncur ke tempat dimaksud.

Itu hari pertamanya mencari Adil. Dia sudah memikirkan akan merunut bagaimana Adil bisa pergi lewat teman-teman lelaki itu. Komet tentu tahu, lewat cerita-cerita yang sudah ada, Jakarta adalah kota tempat dia bisa menemukan Adil. Namun, dia ingin memastikannya sendiri, menggali jejak Adil lewat sudut pandangnya.

Siang itu terik sekali, Komet hanya punya waktu lebih kurang satu jam, sebelum harus kembali ke sekolah tempatnya berjaga. Dia mendatangi pos jaga yang dimaksud, dan menemukan sosok pemuda seumur dengannya. Tanpa basa-basi, Komet melapalkan maksud kunjungannya.

“Tunggu Pak Karta sebentar ya, orangnya lagi makan siang. Yang kenal Bang Adil itu Pak Karta,” ucap pemuda itu kemudian.

Komet mengangguk.

“Duduk dulu saja,” pemuda itu mempersilakan Komet duduk di kursi panjang di belakang pos jaga.

Sekali lagi Komet mengangguk. Dia melihat sekitar, terminal itu terlihat lengang. Area pasar di samping yang ramai.

Paling tidak dia harus menunggu lima belas menit sebelum Karta yang disebut pemuda tadi datang dan menyalaminya. Komet menelan ludah, ketika pria awal lima puluhan itu duduk di hadapannya. Tentu pemuda yang tadi mempersilakannya duduk pun memakai seragam yang sama dengan yang dipakai Karta, hanya saja Komet sedang berandai-andai, mungkin begitulah wujud Adil jika memakai setelan kerjanya.

Segera Komet tersadar atas tujuannya menemui Karta. Lantas diutarakannya maksud kedatangan Komet pada lelaki itu.

"Saya bekerja setahun lebih lama daripada Adil. Dia datang diantar bapaknya ke sini. Waktu itu, katanya, istri Adil baru saja melahirkan," lelaki itu mengenang. "Oh... jadi kamu, anaknya."

"Betul, Pak."

"Sejujurnya saya enggak tahu menahu tentang—," Karta menggantung kalimatnya sambil memandang Komet dengan sungkan. "Emay," pungkas lelaki itu akhirnya.

Komet mengerti sikap lelaki di hadapannya. Menggali apa yang terjadi antara Adil dan Emay bukan tujuannya. "Ayah saya enggak pernah cerita pergi ke mana? Maksud saya lebih detil dari... Jakarta?"

Karta menggeleng. "Walau kelihatan murung, Adil enggak pernah cerita ke saya. Terus sayanya pun enggak mau tahu-menahu urusan orang. Biasanya dia sering ngobrol sama adik iparnya. Jauhari, kamu enggak pernah tanya?"

"Sudah, kami cuma tahu Jakarta saja, Pak. Saya kira Ayah cerita banyak ke Bapak."

Lekas, lelaki itu menggeleng. "Untuk urusan lain, memang. Tapi kalau masalah pribadi enggak pernah sama sekali."

Lihat selengkapnya