“Saketi, persiapan!” Kondektur berteriak mengingatkan.
Komet mendekap ransel, gilirannya untuk turun sudah tiba. Saketi, nama itu tertulis dalam surat yang diterimanya kemarin sebagai tempat pemberhentiannya ketika menaiki bus tujuan Labuan. Dia tak menyangka akan pergi sejauh ini, padahal siang saat mendatangi pamannya, Komet sudah habis asa untuk bisa menemukan Adil.
“Ayah memang teman kecil ayahmu. Tapi enggak satu pun yang aku berusaha tutup-tutupi dari orang tuanya, istrinya, kamu, enggak sama sekali. Ayah heran juga sebenarnya kenapa dia pergi tanpa pamit waktu itu.” Begitu ucap Jauhari kemarin, sambil duduk di sebelah Komet. Matanya sekilas memandang Komet, lalu berpaling ke dua ekor kesturi miliknya.
Mendengar itu, Komet tak mampu berkata-kata. Pun dengan Jauhari setelah berucap begitu, tak ada lagi kalimatnya keluar bahkan sekadar menetralkan kembali suasana yang lengang di antara keduanya. Beruntung Tuti, suami dan anaknya tiba dari pasar. Komet lebih banyak bicara dengan Tuti setelahnya—keduanya dikenal dekat sejak masih kanak-kanak.
Kalau Jauhari kecil dulu tak pernah mau pulang dari rumah Burhan lantaran Adil, Tuti kecil pun demikian terhadap rumah Ma Siah. Bukan karena Ma Siah juga rumah neneknya, tapi lantaran Komet dia begitu.
Komet dan Tuti seumuran, Tuti lebih tua tiga bulan saja. Masa kecil keduanya dihabiskan dengan permainan-permainan sederhana: bermain kelereng di tanah becek belakang rumah, mencari jangkrik ketika musim panas, menerbangkan layang-layang yang benangnya sering putus tersangkut ranting mangga, atau menangkap ikan mujair di empang kecil milik tetangga yang sudah lama tak terurus.
"Met, sini! Ada yang gede!" Tuti pernah berteriak suatu sore, celananya sudah basah kuyup sebatas paha, tangannya menunjuk ke arah gerakan air di sudut empang.
Komet, yang lebih hati-hati dan agak penakut soal lumpur, mendekat perlahan. “Beneran ikan ga? Jangan-jangan ular."
"Ih, Komet mah gitu terus. Coba aja dulu!"
“Tapi kalau ular gimana?”
Tanpa ba-bi-bu Tuti langsung menceburkan diri lebih dalam, tak peduli baju yang tadinya bersih kini kotor semua atau memang yang diincarnya sejak tadi alah ular kadut seperti yang ditakutkan Komet.
Hasilnya memang bukan ikan besar seperti yang diharapkan Tuti, hanya seekor mujair kecil yang meronta-ronta di tangannya, tapi keduanya tetap berteriak girang seolah mendapat harta karun, sebelum akhirnya sepakat melepaskan ikan itu kembali karena kasihan.
Tuti punya kebiasaan yang selalu diingat Komet sampai dewasa: gadis kecil itu selalu bertindak seperti kakaknya. Kalau ada anak di kampungnya atau kampung sebelah yang menggoda Komet karena rambut jabriknya, atau karena Komet tak pernah bisa menjawab pertanyaan "bapaknya ke mana?", Tuti lah yang paling dulu maju membela, meski badannya lebih kecil dari anak-anak yang digertaknya.
“Kalau ganggu Komet lagi, awas aja. Gua arah kalau beli uduk Ma Siah!” ancamnya suatu kali pada seorang anak lelaki yang lebih tinggi dua kepala darinya, sambil mengepalkan tangan.
Komet, yang berdiri di belakang Tuti, hanya bisa menahan tawa melihat keberanian sepupunya itu—meski dalam hati dia diam-diam berterima kasih, karena kadang kata-kata pembelaan itu lebih menenangkan daripada penjelasan panjang tentang ke mana ayahnya sebenarnya pergi.
Waktu senggang lain, keduanya suka duduk di pematang sawah dekat rumah, menghitung capung yang beterbangan, atau sekadar berbagi jajanan seribu rupiah dari warung Pok Onih—Tuti selalu membagi rata meski uang jajannya sendiri yang dipakai membeli.