Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #12

Bab 12

Komet tentu punya pengalaman memanggul keranda, menurunkannya ke liang lahat, serta mengadzani jenazah. Tapi, tak pernah ada dalam angan-angannya melakukan hal serupa jauh-jauh di kampung orang, untuk lelaki yang bahkan belum sempat ditanyai disimpan di mana surat tanah Ma Siah?

Ingin berpaling sebenarnya Komet saat tahu Adil sudah tiada. Namun kakinya terpaku mana kala dilihatnya tubuh Adil membujur berselimut jarik di ruang tengah. Apalagi saat seorang perempuan muda menariknya untuk mendekat, Komet hanya menurut dan berlutut di hadapan jenazah. Seorang perempuan paruh baya, membantu membuka kain yang menutupi wajah Adil.

Dalam hening Komet memperhatikan sosok yang sudah rapi dikafan. Meski terlihat lebih kurus dan pucat, wajah itu identik. Rupa itu kepunyaan Adil. Raut itu tersimpan dalam kantung kecil ingatannya yang terbentuk lewat cerita-cerita yang terucap dan bukti foto yang ditinggalkan Adil.

Sejak tiba di rumah duka, Komet sadar dialah anomali. Semua memperhatikannya, menaruh curiga, dan tanya. Beberapa pelayat menduga, pemuda yang tiba-tiba hadir di rumah duka adalah kekasih dari anak kandung almarhum Adil, Riri. Baik Komet, Riri, nenek dan lingkungan keluarga terdekatnya tak mencoba meluruskan desas-desus tersebut, bahkan hingga proses pemakaman selesai, dan Komet masih belum beranjak dari kubur.

Beberapa langkah dari tempat Komet, Riri berdiri menunggu.

Merasa ditunggui, Komet akhirnya beranjak dari pusara dan menghampiri Riri.

“Terima kasih sudah datang,” ucap Riri ragu.

Komet hanya membalas ucapan itu dengan anggukkan samar. Mereka melangkah meninggalkan area pemakaman. Komet melihat sekitar, pemakaman ada di tepi hutan yang rapat. Jika harus kembali ke rumah duka seorang diri, dia mungkin akan tersesat. Itu pula mungkin yang membuat Riri menunggunya. Selama perjalanan kembali, keduanya tak saling bicara. Komet hanya mengikuti Riri yang memandu dua langkah di depan.

"Masuk dulu, Kak," ajak Riri begitu keduanya tiba di rumah.

"Saya harus mengabari orang rumah," balas Komet. Dia lekas menepi di kursi panjang di bawah pohon rambutan yang rimbun tepat di samping rumah.

Riri meninggalkan Komet untuk masuk ke dalam, sementara pemuda itu sudah sibuk dengan ponselnya. Dia mengetik sederet kalimat yang mengabarkan kalau Adil telah berpulang, dan minta tolong agar kabar tersebut diteruskan pada Ma Siah. Pesan terkirim ke nomor kontak Jauhari. Usai mengirim pesan, Komet mengamati sekitar, sudah cukup sepi.

Tak lama Riri kembali dengan secangkir air putih. "Maaf tadi lupa menawari minum," ucap Riri meletakkan cangkir di kursi. Tak beranjak, Riri duduk bersebelahan dengan Komet. Posisi keduanya dibatasi secangkir air putih.

"Terima kasih," balas Komet singkat. Dia menenggak air dalam cangkir itu sampai sisa setengah.

"Kakak langsung balik ke Tangerang?" Riri bertanya.

Sejujurnya Komet merasa tak nyaman dipanggil kakak, atau mungkin memang belum terbiasa. "Saya langsung pulang," jawab Komet kemudian.

"Kalau masih capek, bisa bermalam dulu di sini."

Komet menggeleng, "Tidak usah."

"Mungkin buat Kakak hal ini berat, tapi saya mohon untuk dibukakan pintu maaf untuk Ayah."

"Istrinya, ibu saya, sudah wafat," balas Komet. Komet mengambil napas panjang, tanpa melihat pada Riri dia berkata lagi, "Ayahnya juga."

Mendengar itu Riri bergeming.

"Saya tinggal bersama Nenek, ibunya."

"Saya pun begitu."

Lihat selengkapnya