Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #13

Bab 13

“Belum ada busnya, Kak. Mau saya temani sampai bus datang?”

“Oh, enggak usah. Biar saya tunggu saja. Terima kasih sudah antar,” ucap Komet sambil turun dari boncengan. Dia melepas helm, lalu menyerahkan pada sepupu Riri yang ditugasi mengantarnya.

“Yasudah kalau begitu. Hati-hati, Kak.”

“Ya, salam untuk Riri dan Ambu.”

Pemuda itu mengangguk. Dia memberi salam sebelum motornya berbunyi lagi dan pergi.

Komet hanya memandangi motor itu menjauh dari halte. Ya, tempatnya menunggu bus kali ini di halte, bukan pasar. Meski sama-sama Saketi, tempat pemberhentian dan keberangkatan bus berbeda lokasinya. Halte keberangkatan sedikit lebih jauh dari tempat ketika dia datang tadi.

Suasana halte sedikit sepi, hanya ada beberapa calon penumpang. Yang banyak justru penjual asongan yang menjajakan dagangannya. Salah duanya mendatangi Komet, menawari minum dan penganan ringan yang terbuat dari biji melinjo. Komet menepis keduanya dengan senyum tipis disertai gelengan.

“Dua Lima belas saja, ‘A. Kecepreknya,” kata si Penjual masih berusaha menawarkan dagangan. “Di sebelah dua lima dua, ‘A. Gapapa buat modal saja. Kalau ketahuan sama yang lain saya diomelin ini,” tambahnya lagi berbisik.

Sekali lagi Komet menggeleng, “Terima kasih.”

Si penjual keceprek kemudian menyerah, dia meninggalkan Komet.

Kini tinggal Komet duduk sendirian di sudut halte, bersama pikirannya yang mengawang. Perkataan Ambu tentang lelaki yang diyakini Komet sebagai Jauhari jelas mematahkan kepercayaannya pada pamannya itu. Namun, sekali lagi Komet bertanya, untuk apa? Hanya menyembunyikan Adil di tempat ini?

Tak ada jawaban.

Tadi, sebenarnya Komet sudah mencoba mengorek informasi, barangkali ada hal lain yang dibicarakan Adil dan Jauhari selain daripada soal Burhan yang wafat? Sayang, Ambu tak tahu menahu obrolan lanjutan keduanya. Pun, saat Komet berkata, “Istri pertamanya meninggal, apa Ayah tahu? Apa Ayah Jauhari datang lagi memberitahu Ayah?”

Perempuan itu menggeleng lemah sambil mengatakan kalau Jauhari tak pernah datang lagi setelah hari kedatangannya waktu yang pertama.

Komet berhenti di sana. Tak ada lagi yang bisa digali, dia pamit.

Sebelum pulang Riri mengatakan Komet akan diantar sepupunya sampai Saketi. Komet hendak menolak, namun Riri memaksanya dengan mengatakan agar Komet bisa sampai sebelum larut. Komet setuju. “Sekali lagi, maafkan Ayah ya, Kak,” ucap Riri lagi sebelum Komet naik ke boncengan.

Komet mengangguk.

“Terima kasih.” Ucapan Riri tadi mengaum dalam gendang telinganya.

“Jakarta… Jakarta… Jakarta….” Seorang kondektur berlari ke arah Komet, dan menanyakan Komet hendak pergi ke mana?

Pertanyaan itu tak dijawab Komet dengan bicara, dia berdiri melangkah menuju bus merah menyala yang mendekat. Si Kondektur menuntunnya untuk naik.

Bus penuh penumpang. Hampir semua kursi terisi. Komet tak ingat dia berada di kursi baris keberapa, yang jelas Komet berada di sisi kanan, ada satu kursi kosong di sana.

Bus bergerak, pikiran Komet masih jalan di tempat. Dia merasa ini hari yang sangat berat.

Komet tahu sejak dulu bahwa tanah-tanah di kampungnya jarang ada yang bersertifikat. Belakangan dia mengerti juga kalau tak sedikit bidang tanah warga yang dicaplok mafia lewat penerbitan NIB tanpa diketahui pemilik aslinya. Kasus-kasus seperti itu belakangan menguap, dan jadi pembicaraan di pos ronda.

Sertifikat Ma Siah lain hal, paling tidak dilihat dari kisahnya sertifikat itu digadai pada seseorang, untuk menikahkan ayahnya. Tak sampai di situ, mereka juga meyakini kalau surat itu sudah ditebus, dan dibawa Adil. Namun, saat Komet mendatangi Adil dan tak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan di mana surat itu disimpan, lebih-lebih mereka mengatakan tak pernah mendengar apa pun soal sertifikat tanah, Komet jadi bingung.

Tujuan Komet tak genap: meski dia bisa menemui Adil walaupun sudah dalam keadaan terbungkus kafan dan siap dikebumikan, untuk sertifikat yang menjadi tujuan lainnya tak bisa dia temukan. Bagaimana dia mengatakan pada Ma Siah kalau jarak perempuan itu dengan Makkah kembali renggang?

Lihat selengkapnya