Rumah itu ramai. Tampak beberapa sepeda motor terparkir di halaman rumah Ma Siah. Komet mengenali motor-motor tersebut. Bahkan dari jarak Komet kini, dia bisa melihat siluet para pemiliknya tersebar di beranda dan ruang tengah rumah neneknya yang lebar. Setelah membayar sejumlah uang pada pengemudi ojek, Komet berjalan ke rumah.
Tuti yang berada di beranda bersama anak dan suaminya, menyadari kedatangan Komet. “Tuh, si Komet pulang!” serunya.
“Assalamualaikum,” ucap Komet.
“Yang sabar ya, Met,” Tuti berucap setelah membalas Komet. Dia mengusap bahu sepupunya.
Komet hanya mengangguk, kemudian menyalami semua orang dalam ruangan.
Tiba pada Rohmah, perempuan itu menangis memeluk Komet. “Sabar, ya. Yang penting sudah lihat.”
“Ya,” balas Komet singkat.
“Ya Allah, Abang…,” Rohmah terisak.
“Sudah,” Mamah mengusap bahu Rohmah.
“Dikubur jam berapa Ayah, tadi, Met?” Jamilah yang bertanya.
“Waktu Komet kirim pesan ke Ayah Jauhari, itu baru selesai dikubur. Komet datang sudah rapi dikafan,” balas Komet.
“Pas datang gimana orang sana lihat kamu?” Jamilah bertanya lagi.
Komet bingung bagaimana dia akan merespons ucapan bibinya itu. “Ya, begitu. Yang lain sih, bingung. Cuma Riri sama Ambu ngucapin terima kasih sudah datang,” balas Komet ragu.
“Jadi, Riri anaknya?”
Komet mengangguk.
“Ambu siapa?”
Komet melirik Ma Siah yang sejak tadi tak ikut mencecarnya dengan tanya. Entah, mungkin neneknya tersebut hanya ingin mendengar saja cerita-cerita yang didapatnya ketika mengunjungi Adil. “Ambu… itu ibu mertua Ayah. Istrinya sudah meninggal dua tahun lalu.”
“Terus sertifikatnya ada?”
Komet menelan ludah saat Jamilah akhirnya sampai pada pertanyaan itu. Lagi-lagi Komet bingung bagaimana dia akan menjawab. Apa yang harus dia katakan? Bagaimana jika dia berbicara jujur tentang keterangan I Ping mengenai Jauhari? Bagaimana keluarganya menerima kebenaran ini?
Sejarak tiga langkah dari posisi Komet, Jauhari tampak tenang duduk di kursi, berseberangan dengan Ma Siah. Dia ikut dalam obrolan. Dia bahkan menyadari kalau Komet sempat meliriknya.
“Enggak ada,” balas Komet akhirnya. “Mereka enggak pernah tahu soal sertifikat. Ayah enggak pernah cerita.”
“Sudah saya duga, Ma. Enggak tahu ke mana itu sertifikat,” sambut Jamilah. “Untung saja ini enggak ada angin enggak ada hujan ada orang yang beneran mau beli tempat Ma cuma pakai girik. Coba misalnya enggak ada, mau jual ke mana rumah enggak ada sertifikatnya?”
Komet menelan ludah.