Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #16

Bab 16

Bus tujuan Labuan itu melaju cepat di ruas tol Jakarta-Merak. Seluruh kursi telah terisi. Beberapa mahasiswa yang tak kebagian tempat duduk rela berdiri, bergoyang ke kanan dan ke kiri, mengikuti gerak lincah bus menyelinap di jalan yang lumayan ramai. Koordinasi sopir dan kondektur yang baik membuat bus melaju tanpa hambatan.

Satu kali si Kondektur bersiul panjang, sesaat setelah bus berhasil menyalip sebuah minibus dari sudut sempit. Beberapa mahasiswa yang berdiri di bagian belakang hampir tersungkur. Salah satu di antaranya beristigfar kencang-kencang. Seorang ibu di satu sudut mendumal, "Setan banget sih, bawa mobilnya!"

Tak ada awak bus yang peduli, seperti tidak terjadi apa-apa sementara si Sopir terus menancap injakan kakinya pada pedal gas seoalah itu adalah hal yang biasa.

Yang duduk di baris kelima sisi kiri adalah Ahmad Komad, pemuda yang lebih akrab dipanggil Komet lantaran rambut jabrik kepunyaannya mirip ekor bintang. Ini kali kedua dia menaiki bus dengan tujuan yang sama. Yang pertama tahun lalu. Ketika itu, dia duduk di baris kelima sisi kiri. Saat ini, tanpa disadari, dia menempati posisi yang sama.

Jika setahun lalu kedatangannya untuk mendatangi Adil, kini Komet hendak menemui Riri. Komet akan menyampaikan pesan Ma Siah untuk adik perempuan-nya tersebut. Pesan itu sebenarnya terucap Ma Siah jauh sebelum perempuan itu wafat empat puluh hari yang lalu: ketika akhirnya rumah Ma Siah terjual, Pak Haji pun telah menuntaskan proses jual beli.

Setelah tunai janji Ma Siah untuk membuat tahlil di hari ketujuh kematian Adil, perempuan itu mengumpulkan keempat anaknya yang tersisa. Di hadapan mereka, Ma Siah menyampaikan keinginannya untuk merenovasi rumah, lalu menyimpan sebagian uang untuk biaya umrah, lalu sebagian lainnya untuk biaya hidup dan biaya kematiannya suatu saat, selebihnya akan dibagikan pada ahli waris.

Mula-mula Ma Siah akan mengikutsertakan Komet sebagai ahli waris pengganti ayahnya.

“Enggak bisa begitu, Ma,” selak Jamilah. “Kalau menurut hukum agama, selama ada paman dan bibi enggak ada ahli waris pengganti, Ma. Kan, syarat pemberian warisan itu hidupnya ahli waris dan meninggalnya yang kasih warisan. Kata guru ngaji saya, kalau anaknya yang wafat duluan, justru orang tuanya yang jadi ahli warisnya.”

Ma Siah terdiam.

“Coba tanya Ustaz Haikal, deh. Kalau Ma enggak percaya,” tambah Jamilah lagi.

“Ya, Ma juga pernah dengar kalau enggak ada istilah ahli waris pengganti di syariat kita. Cuma, kan, ini Komet sendirian. Ma takut kalau Ma sudah enggak ada umur dia enggak tahu harus ke mana. Masa kalian tega? Anak kandung Abang kalian lho ini,” kata Ma Siah gusar.

“Ya doanya Ma jangan mati dulu,” jawab Jamilah.

“Lagian, Ma. Kalau satu cucunya dikasih, nanti cucu yang lain gimana perasaannya?” Mamah bertanya sebelum Ma Siah menyahuti jawaban Jamilah tadi.

Ma Siah melihat ke arah Rohmah dan Yusuf bergantian, yang dilihati hanya diam di posisinya. “Ya sudah, begini saja. Kalau kalian mau sesuai syariat, ya lakuin benar-benar. Termasuk besaran bandingnya, anak laki-laki dua, anak perempuan satu,” jawab Ma Siah sengit.

Jamilah menggeleng, “Kalau itu nanti dulu, Ma. Kita lihat kebutuhan juga. Pertama, Yusuf kan anak terakhir, terus cuma punya satu anak. Istrinya pun sudah enggak bisa lahirin lagi. Tentu kebutuhannya lebih sedikitlah dari saya. Apalagi Mamah tuh, yang bentar lagi nambah anak. Rohmah juga enggak nutup kemungkinan bakal nambah anak lagi.”

“Atuh, gimana... katanya sesuai syariat,” Ma Siah berdecak. Perempuan itu kemudian bertanya pada Yusuf, “Gimana, Suf?”

“Saya sih, terserah saja, Ma. Yang penting semuanya pada ikhlas.”

“Rohmah pikir, baiknya, sih, terserah Ma saja pembagiannya bagaimana. Kan, yang punya warisan, Ma.” Rohmah menyelak.

“Kalau enggak begini saja, Ma,” ucap Jamilah, hendak menawarkan jalan tengah. “Warisannya dibagi rata, terus nanti masing-masing ahli waris kasih sedekah buat Komet. Masing-masing dua setengah juta, udah cukup banget itu buat dia yang masih bujangan. Lagian Ma, ini cucu Ma sudah dewasa, sudah kerja, sudah bisa cukupin hidupnya sendiri. Saya yakin, sekarang sudah punya tabungan, dia. Ya, hitung-hitung sedekah dari kita bisa dia tabung juga buat modal nikah. Cukup itu, saya yakin.”

“Iya, saya rasa bisa begitu. Sudah gede itu, Ma,” Mamah menambahkan.

Ma Siah berpikir, kemudian bertanya pada Yusuf dan Rohmah, “Gimana?”

“Saya ikut saja, Ma. Terserah. Yang penting semuanya pada ikhlas,” jawab Yusuf.

“Jawaban saya masih sama,” tambah Rohmah.

Tak ada yang menginterupsi, keputusan tersebut kemudian yang dijalankan, meski sebenarnya Ma Siah masih ingin menjadikan Komet sebagai ahli waris pengganti. Hanya saja, perempuan itu tidak ingin musyawarah ini berlarut-larut apalagi berakhir dalam kemelut. Ma Siah tentu tak ingin, pembicaraan harta warisan ini sama seperti FTV terakhir yang ditontonnya, bertengkar karena warisan—apalagi harta waris miliknya tak seberapa.

Sama seperti ketika dia datang dulu, rumah itu terlihat ramai. Beberapa sepeda motor terparkir di samping rumah. Beberapa orang terlihat sibuk: mengupas kelapa, mengapak kayu, dan mengangkut air. Komet mengenali seseorang yang berjalan ke arahnya sambil memanggul dua jeriken kosong dengan bilah kayu. Tubuhnya yang betelanjang dada terlihat berkilat oleh keringat.

“Ka Komad,” sapa pemuda yang dulu mengantar-nya ke Saketi itu.

Lihat selengkapnya