Mencari Adil

Rizky Kurniawan
Chapter #17

Bab 17

“Kadang-kadang saya masih enggak percaya bahwa perempuan yang selama ini punya impian paling teguh itu kini benar-benar pergi—dengan mimpi ke Tanah Suci yang tak pernah sempat terlunasi, kecuali dalam niat yang, kata Ustaz Haikal, mudah-mudahan tetap dicatat sebagai pahala di sisi-Nya.“

Riri memperhatikan kakaknya yang tersenyum sambil menutup cerita.

“Kakak tinggal sama siapa sekarang?” Riri ingin bertanya begitu sebenarnya, tapi tanya itu tertelan bersama ludahnya. Tentu Riri tahu—dari cerita Komet sebelumnya—kalau kakaknya tersebut hanya tinggal bersama neneknya, sama sepertinya. Jadi, Riri pikir, mungkin pertanyaan itu akan menyinggung perasaan pemuda di hadapannya.

“Ma mewasiatkan sejumlah uang untuk saya dan kamu,” ucap Komet kemudian.

“Masya Allah… saya kira yang seperti ini tidak perlu, Kak.” Riri mengerti posisi dirinya, terutama ibunya.

“Tapi, ini keinginan Ma, pesannya. Dosa buat saya kalau tidak disampaikan ke kamu.” Komet mengambil sesuatu dari ranselnya, sebuah kertas. “Ini salinan surat wasiat yang ditinggalkan Ma. Silakan dibaca,” ucap Komet lagi sambil menyerahkan kertas itu pada Riri.

Komet bisa mengerti kalau Riri tak percaya dengan apa yang tertulis dalam surat. Saat itu, ketika Ma Siah akhirnya mengembuskan napas terakhir, kemudian datang Ustaz Haikal kepada anggota keluarganya dengan membawa dan membacakan surat wasiat Ma Siah, Komet sama tak percayanya dengan Riri, termasuk juga semua anggota keluarga Ma Siah yang lain.

Saat itu, begitu selesai upacara pemakaman Ma Siah, datang Ustaz Haikal bersama seorang santrinya didampingi ketua RT setempat. Kedatangan Ustaz Haikal untuk menyampaikan wasiat Ma Siah yang rupa-rupanya dititipkan kepadanya. Ketika itu semua anggota keluarga dikumpulkan.

“Ma datang pada saya waktu itu. Minta dibuatkan surat wasiat, katanya. Memang waktu itu kami baru saja membahas soal ahli waris. Ya sudah, karena beliau yang minta, saya suruh santri saya ini untuk tuliskan,” Ustaz Haikal berkisah. “Betul begitu, ya?” Ustaz Haikal bertanya pada santri di sampingnya.

“Betul, Ustaz.”

“Ma bilang, minta disampaikan ketika beliau sudah wafat. Saya kira ini waktunya. Cuma saya pengin ingetin, gimana pun isinya nanti, terima ini sebagai wasiat, pesan terakhir, keinginan beliau.”

Dari sana meluncurlah pesan-pesan Ma Siah, terutama tentang rumah tinggalnya yang sebelum ini ditinggali olehnya dan Komet. Dalam wasiatnya Ma Siah mengatakan kalau rumah itu boleh ditinggali Komet selama cucunya itu belum menikah dan belum memiliki rumah. Jika pun rumah tersebut diputuskan bersama untuk dijual, Ma Siah meminta satu pertiga dari hasil penjualannya diberikan pada Komet, lalu Komet harus membagi lagi kepada adik perempuannya dengan perbandingan dua banding satu. Kemudian dua pertiga sisa penjualan rumah dibagi lagi pada keempat anaknya, dengan perbandingan dua dan satu untuk anak laki-laki dan perempuan.

Terutama Jamilah, mangkel sebenarnya mendengar wasiat tersebut. Namun tentu dia tidak bisa berbuat apa-apa, dan tetap harus melaksanakan pesan ibunya tersebut.

“Jadi, rumah Ma sudah dijual?” Riri bertanya, sambil menyodorkan kembali kertas itu pada Komet.

Komet yang bengong tersentak. “Eh, i-iya. Seminggu yang lalu sudah selesai pembayarannya. Tapi kami minta waktu dua minggu untuk sampai paling tidak selesai peringatan empat puluh hari Ma.”

“Terus Kakak tinggal di mana?” Tanya itu akhirnya meletus.

Komet memperhatikan Riri, guratan wajahnya tampak resah. Komet bisa mengerti mengapa adiknya bisa sekhawatir itu. Dia pun cemas pada mulanya, akan tinggal di mana kalau ternyata rumah Ma Siah diputuskan untuk dijual? Namun, Komet tahu di mana dia bisa pulang. Ada satu orang lagi sebenarnya yang sayangnya pada Komet tak luntur selain Lastri dan Ma Siah. Santi.

Sejak tahu Adil meninggalkan kakaknya, Santi sebenarnya meminta Lastri untuk kembali, tapi kakaknya itu masih percaya Adil akan kembali. Santi memaksa lagi saat tahu Adil tak pernah kembali, namun Lastri tak bisa meninggalkan Ma Siah begitu saja. Pun saat Lastri akhirnya wafat, Santi pernah meminta Komet untuk tinggal bersamanya, permintaan itu pun ditolak. Santi tahu, sama seperti Lastri, Komet amat menyayangi Ma Siah. Kini Ma Siah sudah tiada, Santi tahu harus berbuat apa kepada keponakannya. Syukurnya, kali ini Komet menerima permintaan itu.

Sejak saat itu Komet juga jadi terbuka pada Santi, termasuk soal surat tanah yang dicari selama ini ternyata berakhir di tangan Jauhari.

“Memang sampai saat ini belum ada masalah. Tapi, kalau kamu mau cari adil untuk Ma, Ibu dan Ayah, Bibi rasa kamu perlu tanyakan ke Ayah Jauhari langsung,” saran Santi waktu itu.

Dan, ya… Komet mendatangi Jauhari pagi ini, sebelum Komet tiba di kediaman Riri dan Ambu.

Pagi tadi, sebetulnya Komet ingin memberikan kunci rumah Ma Siah yang sudah dikosongkan pada Jamilah. Dia juga pamit untuk menemui Riri, dan kemudian akan langsung pulang ke rumah Santi. Mulanya Komet tak sampai hati untuk berterus terang. Saat hendak pergi, Komet mendapati Jauhari tengah duduk di beranda sambil menyudut rokok, padahal saat dia datang tadi tak tampak batang hidung pamannya.

Komet mendekat, mengucap salam, lalu menyalami Jauhari.

“Dari tadi, Met? Tumben, masih pagi,” ucap Jauhari heran.

Lihat selengkapnya