SRIMULAT menggeliat. Kedua tangannya yang sekurus ranting ditarik lurus ke atas dan ke samping. Diregangkannya tubuh yang belum istirahat hingga subuh.
Semalam suntuk ia hanya duduk di tempat yang sama, menatap ke sudut dinding lama-lama. Namun, pikirannya berkelana ke mana-mana. Kali ini Srimulat tidak bisa bohong bahwa dirinya sedang baik-baik saja. Hari-harinya murung, makan dan tidur pun urung. Baginya, menyuapi badan dengan makanan dan jam tidur sekarang adalah tindak kejahatan. Bagaimana mungkin ia mampu mengistirahatkan tubuhnya sementara Srimulat tak tahu pasti anaknya ke mana, bersama siapa, sedang apa....
Sudah lebih dari seratus hari Danu hilang dari pandangannya, tetapi justru selalu memenuhi pikirannya. Putra kecil yang selalu ngintil¹ ke mana pun Srimulat pergi—bahkan sekadar ke kamar mandi—kini tak terlihat sama sekali. Bayangannya pun tidak. Rengekan manjanya pun tidak. Suara napas dan dengkurnya yang sehalus kapas juga tidak.
Ia sudah melapor ke polisi, tapi mereka tidak menerima laporan orang hilang sebelum 24 jam dan disarankan untuk mencari ke lingkungan sekitar. Tak peduli meski Srimulat datang dengan wujud berantakan, memohon-mohon agar anaknya ditemukan.
Malah, salah seorang polisi bilang, “Makanya, anaknya dijaga betul-betul, Bu.” Mereka berkata dengan santainya seolah Srimulat tak pernah menjaga anaknya. Seolah Srimulat adalah ibu yang abai dan jahat. Seolah ia ini monster yang sengaja membiarkan anak semata wayangnya hilang dan hancur dalam nestapa.
“Coba tanya ke tetangga atau saudara terdekat, siapa tahu anaknya sedang main.”